Mengapa sekarang banyak sekali tukang ojek ? apa efek negatifnya ?


Coba liat di pojok-pojok perempatan atau pertigaan, dulu tempat itu sepi. Turun di sini untuk jalan kakipun nyaman dan tenang. Tetapi sekarang hampir tiap perempatan, pertigaan jalan ada tukang ojek. Kalo mereka liat orang turun di situ pasti diajakin untuk ngojek. Gak peduli jarak rumah jauh atau dekat. Mereka liat orang seperti liat duit ribuan atau sepuluh ribuan sedang berjalan.

Dalam tulisan ini akan aku sampaikan apa yang aku liat dalam kehidupan sehari-hari. Aku bagi dalam tiga hal yaitu Mengapa banyak tukang ojek dan Efek Negatif. Semoga informasi ini bermanfaat untuk kita semua.

MENGAPA ?
Menurutku mengapa sekarang banyak tukang ojek bermunculan di tempat-tempat seperti pertigaan atau perempatan gang adalah

  1. Kurangnya lapangan kerja.
    Jaman sekarang cari kerja lebih susah, dibutuhkan keahlian yang cukup untuk dapat masuk ke sebuah perusahaan atau pabrik.

    Mau wirausaha gak ada modal, disamping itu ilmu untuk wira usaha juga kurang.

    Misal punya kemampuan kalau nggak punya channel (orang dalam) di perusahaan/pabrik juga nggak bisa masuk kerja

  2. Mudahnya mendapatkan motor dengan cara kredit.
    Sekarang ini untuk kredit motor gak usah dengan DP yang besar, dengan bilangan di bawah 500 ribu sudah bisa membawa pulang motor baru.

    Apa lagi sekarang produsen motor berlomba-lomba melakukan penjualan motor dengan berbagai cara. Yaa akibatknya untuk mendapatkan motor gampang banget.

    Ini menjadikan orang untuk tidak berpikir panjang lagi untuk memiliki motor walaupun gak punya uang… kreditpun jadii…

  3. Etos kerja yang sangat rendah
    Kebanyakan pikiran orang kita adalah kerja santai dan dapet uang banyak. Ini sangat buruk sekali. Akhirnya pilihan kerja walau uang gak jelas dapetnya yang penting bisa santai dan bergaya ke sana sini punya motor.

    Ini juga yang memicu terpilihnya profesi sebagai tukang ojek menjadi yang paling mudah. Udah punya motor, cicilan harus dibayar dan tak mau kerja repot.. ngojekpilihannya….


EFEK NEGATIF

Secara manfaat mungkin hanya 10%, yaitu bisa menolong orang yang lagi kecapaian untuk sekedar jalan kaki ke rumah. 90% aku lihat lebih negatif, dibawah ini argumenku.

Dengan mereka jadi tukang ojek, menjadi malas untuk bekerja yang lain. Alasan tidak ada pekerjaan lain sepertinya belum tentu benar. Dengan jadi tukang ojek bisa santai-santai, banyak teman seprofesi.

Dengan tiap hari santai-santai maka etos kerja pun turun, kalaupun ada pekerjaan lain, pasti pertimbangan apakah kerja keras atau kerja ringan jadi pertimbangan. Coba liat dipedesaan, lahan-lahan pada nganggur, pemudanya lebih seneng nongkrong dipinggir jalan daripada bertani. Padahal prospek hasil pertanian cukup bagus.

Dengan kondisi di atas, makan sekarang lebih pada milih untuk kerja dengan jalan pintas. Jadi rentenir, adalah pilihan jitu. Ketika ada yang bermodal cukup, duit dipinjamkan dengan syarat mengembalikan dengan bunganya. Atau alternatif lain dengan jualan miras. Keduanya laku keras dan banyak peminatnya.

Tingkat kebanggaan atas grup ojek juga salah arah. Sering terjadi tawuran antar tukang ojek. Apalagi kalau sampai rebutan lahan. Kebiasaan mereka tidak jauh dari melihati siapa saja yang lewat, kalau tidak suka, bibit-bibit permusuhan akan timbul misalnya dengan pamer dan aksi-aksi yang bisa menimbulkan emosi.

Kesempatan untuk melakukan maksiat juga lebih besar. Sambil menunggu atau nongkrong di pos ojek, banyak sekali yang memanfaatkan untuk berjudi. Awalnya sih buat iseng aja, tapi siapa menjamin tidak akan disertai dengan taruhan. Kemudian kalau sudah malam potensi untuk ditemani miras sangat besar. Alasan awalnya adalah untuk penghangat badan. Siapa menjamin bahwa hal tersebut tidak akan mengarahkan pada mabok-mabokan dan pesta miras.

Kasus pesta miras yang berkhir pada kematian ini biasanya juga dilakukan oleh para tukang ojek. Kalau sudah level seperti ini, seorang tukang ojek akan memiliki cara berpikir sendiri dalam hidupnya. Dia akan merasa enjoy ketika berada bareng teman-temannya dibandingkan dengan keluarganya.

Masalah akan berlanjut pada terlantarnya keluarga. Kondisi rumah, perhatian terhadap istri dan akan pasti akan kurang. Hal ini adalah bibit ketidak harmonisan keluarga yang sangat besar. Banyak kasus kdrt dikarenakan sang suami suka mabok dan judi.

Yang terakhir adalah kebanggaan terhadap kelompok ojeknya. Berapa banyak kasus perkelahian antar desa yang aslinya dimulai dari senggolan antar tukang ojek. Kalau warga bisa gak mungkinlah, secara sudah punya kesibukan yang lain.

Nah pada tukang ojek, perasaan sensitif menjadi lebih tinggi jika melihat pengendara motor lewat didepannya, apa lagi kalau tau itu adalah sama-sama orang jalanan dari kampung lain maka biasanya akan pasang muka sangar dan seterusnya… itu contoh kecilnya.

Yaaah masih banyak lah efek negatifnya, tapi yang aku sebutkan di atas adalah garis besarnya. Entah apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi di atas, yang jelas ini adalah masalah besar…

Yuuk ikut berpusing-pusing ria…
Oh iya jika ada mahasiswa ilmu sosial yang mau bikin skripsi, fenomena ini bagus lho buat jadi bahan… :mrgreen:

Penulis: ahsanfile

Enak makan, enak tidur cukuplah itu di dunia... selalu memperbaiki keimanan di tengah lingkungan yang sudah rusak, cukuplah itu untuk akhirat..

111 tanggapan untuk “Mengapa sekarang banyak sekali tukang ojek ? apa efek negatifnya ?”

  1. Setelah baca posting ini, saya jadi berpikir kalo pilihan jadi tukang ojek itu adalah pilihan mudah. Tinggal beli (atau kredit) motor, bisa kerja deh jadi tukang ojek.
    Sepertinya sih iya, karena saya juga sering melihat mereka mengendarai motor dengan cara suka-suka…ngebut dan nyalip yang bikin deg-degan penumpang, atau berhenti di tempat yang jelas-jelas dilatang…
    Ada juga sih tukang ojek yang patuh aturan, sayang sekali jumlahnya kalah jauh dengan yang suka suka itu tadi 🙂

    1. Setauku tukang ojek yang bener-bener melakukan profesinya dengan sepenuh hati paling 10% mba…
      mereke niat ngojek karena melihat ada prospek yang bagus di sebuah tempat, karena banyak penumpang yang bisa menghasilkan sewa…

      Tapi selebihnya karena alasan malas cari kerja lain di saat sudah punya motor…
      itu yang aku prihatin… ini terjadi dan aku lihat sendiri…

    1. Yaa itulah menggapa aku gak memberikan argumen berupa solusi mas, soalnya permasalahan tersebut kompleks banget dan banyak terkait dengan banyak masalah yang lain…

      Dari mulai malas kerja, tak ada lapangan kerja, kebanggan kelompok sampai kebiasaan mabok dan judi… huaaahh… banyaak sekali

      entah mana yang harus dibenerkan lebih dulu…

  2. btw, ga semua yang punya motor itu adalah tukang ojek loh.
    tapi emang motif utamanya punya motor adalah bisa nyambi jadi tukang ojek sih :D.
    kalo saya sih lebih ngeliatnya dari pemakai jalan raya. Kehadiran motor2 yang ga peduli tata tertib bikin lalu lintas jadi semrawutt :((

    1. Lha iyes ….
      yang punya motor belum tentu ngojek, mungkin prosentasenya 90% bukan ngojek… kalau di kota besar.

      tapi kalau udah di daerah pinggrian % tukan ojek bisa lebih dari 10% kaya di pedesaan.

      Yaah angka-angka itu aku lihat dari apa yang aku saksikan sendiri di daerahku. tapi aku yakin kondisi dimana-mana sekarang gak jauh beda…

  3. semua pekerjaan pada dasarnya punya dampak negatif dan positif, dan kadang kita sering menilai dan menyimpulkan sesuatu berdasarkan apa yg kita lihat :). seperti ngojek menurutku bukanlah pekerjaan santai dan dapat uang banyak, santai jika dilihat karena mereka banyak nongkrongnya (nunggu penumpang), uang banyak ? berapa sih omzet hasil ngojek perhari? itupun belum dipotong utk cicilan motor perbulan…selain itu bicara soal manfaat ojek yg menurutmu hy 10 % apakah tidak terlalu mendeskriditkan profesi tukang ojek hehehe…so solusi terbaik menurutmu gimana ? agar angka 10 % itu naik jadi 80 % 🙂

    1. Yaa itulah mas, seperti yang diakhir tulisan aku ajak semua orang untuk berpusing-pusing ria… soalnya masalah sosial ini kompleks sekali… banyak sekali hal yang terkait dan saling mendukung… untuk mempertajam permasalahan sosial tersebut…

      Angka 10% yang aku ambil adalah kesimpulan dari apa yang aku lihat didaerahku, dari mulai desa sendiri kemudian desa tetangga sampai desa-desa di kecamatan lain…

      Kesan pertama adalah perasaan nggak nyaman diuber-uber ditawarin ngojek. Kalau dulu aku dateng berkunjung ke tempat teman di desa lain turun dari bus dan jalan kaki rasanya nyaman.. kalau sekarang turun dari bis sudah dikejar-kejar tukang ojek. kalau gak mau naik… pasti ntar kalau sering lewat situ gak akan menemukan orang-orang yang ramah dan cenderung memusuhi…
      ini kenyataan

      Yang kedua adalah efek mereka dengan bebasnya bergaul di jalanan. berkumpul tanpa ada kontrol pasti mengarah pada judi dan miras… Ini aku alamai sendiri pada beberapa orang temanku baik yang satu desa atau lain desa dan lain kecamatan… nasib dan sejarahnya sama karena seneng bergaul dijalanan kondisi mereka sekarang sama…

      kalau tanya solusi adalah menurutku, walaupun ini aku gak yakin adalah dengan memperbaiki etos kerja. Sekarang lahan-lahan pertanian banyak yang nganggur… karena generasi penerusnya memilih alternatif lain…

      1. artinya itu kesimpulan buat didaerahmu aj 🙂 ditempatku masih aman malah byk tukang ojek yg jadi korban penjahat hehehe, n ada satu daerah gak ada ojek sama sekali 🙂 btw ini cuma masukan aj bukan tuk mengajari 🙂

  4. Oh begitu ya. Jadi tahu nih banyak efek negatif dari profesi seorang ojek. Kalau aku jarang sih menggunakan ojek kecuali kepepet sama sekali, karena selain lumayan mahal, agak takut juga kalau dibonceng mereka lalu mereka melakukan tindakan kriminal dengan misalnya membawa kita suatu tempat yang bukan tujuan kita lalu ngerampok gitu. Syukur2 harta yang dirampok, kadangkan mereka nekat dengan membunuh segala. Tapi tidak semua tukang ojek seperti itu lho. Masih banyak tukang ojek yang menjalani profesi itu dengan sungguh2 tanpa ada keinginan untuk berbuat kriminal atau mabuk2an. Semuanya tergantung pribadi masing2. Mau bagaimana lagi, hidup di kota besar memang sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Terlalu banyak pesaing, terutama di kota besar seperti JKT.

    1. Nah mas ifan juga punya pendapat yang sejenis neh kayaknya…
      Kesan kriminal pada tukang ojek sekarang semakin menguat.. walaupun gak semua tukan ojek begitu tapi imbasnya adalah semua tukan ojek harus mendapat catatan khusus soal keamanan pribadi…

      Trus sebabnya apa imej negatif kriminil itu muncul dari profesi tukan ojek ?
      Menurutku yaa karena itu yang aku sebutkan di atas… penyebabnya ada yang secara bertahap ada yang langsung mereka jadi berbuat nekad

      Itu adalah efek dari kebanggaan terhadap kelompok, nyali mereka untuk melakukan hal-hal nekad menjadi lebih besar, dengan pemikiran akan mendapatkan bantuan dari teman-temannya.

      Trus kalau sampai menjahati penumpangnya itu karena mereka sudah gelap mata dan frustasi… biasanya angan-angan seorang tukang ojek itu tinggi sekali..

  5. tentunya tidak semua negatif seperti itu,ada juga yg memang gajinya kurang jadi ikut ngojek,seperti guru yg siangnya ngajar ,sorenya ngojek sampai malam karena gaji gak cukup. tapi memang fenomena ini ada, akar dari semua ini adalah kurangnya pendidikan, habis di negeri ini sekolah bagus mahal sih,jadi seperti lingkaran setan ,mau sekolah gak punya uang,mau punya uang harus sekolah tapi mahal 😯

    1. Itu juga masalah lagi mas… masalah sosial yang penyelesaiannya rumit sekali karena saling terkait dan sangat kompleks…

      Yup tapi intinya ngojek adalah profesi pintas yang harapannya pasti kerja ringan dan tetep dapet duit…

    1. Setujuuu asalkan jangan sampai menimbulkan atau minimal mereka menghindari hal-hal negatifnya…

      makasih kunjungannya

  6. saia termasuk anti dengan naek ojek 😀
    klo gak terpaksa males dengan tukang ojek.

    saia pernah ngalamin, waktu mo berangkat kerja, udah telat sih, nunggu angkot gak lewat..trus ada bapak2 naek motor berhenti didepan saia, nawarin tumpangan motornya, saia pikir mayan deh menghemat waktu, saia liat tuh bapak2 jg baik, dan alhamdulillah gk diapa2in 😀
    tp pas udah sampe tujuan, saia dimintain duit..haha
    dia bilang, “saia ngojek mba” omg pak knpa gk bilang dari tadi..aneh bgt kan sekarang ngojeknya gak mangkal tp cari penumpang dipinggir jalan, dengn pura2 nawarin tumpangan.

    1. Ha ha ha… pernah jadi korban yak ?
      Lagian situ juga mau dianterin orang yang belum jelas…
      hari gini mana ada yang gratis… xixiii

      Taoi itulah salah satu kekurangan mereka…
      malah kadang pada saat mau naik gak ditanya dulu tarifnya berapa, nah saat udah nyampe baru diasih tarif yang tinggi seenak udel mereka…

      Tapi yaa mau gimana lagi yak ?

  7. mengapa saya naik ojek? karena saya lagi tidak ngojek. asal hasilnya untuk kebaikan, menghidupi keluarga misalnya, profesi ngojek baik-baik saja. mengapa mereka memilih jadi tukang ojek? karena syaratnya cukup memiliki jempol untuk memencet tombol start hehehe…
    salam kenal bang

    1. Wakakakaaaa naik ojek kalau tidak sedang ngojek…
      ya iya lah….

      Tapi yang bener-bener ngojek dengan sepenuhnya sekarang kayaknya tinggal dikit mas…

      Mereka ngojek karena hal-hal yang aku sebutkan di atas tadi.. :mrgreen:

    1. Betul mas.. persaingan di antara mereka juga bukan membuat pelayanan mereka jadi baik, tapi malah ugal-ugalan dalam berebut penumpan…

      dan ahirnya penumpang yang jadi korban…

  8. Tulisan anda sesuai dengan fenomena di daerahku… banyak ladang pertanian, tp terbengkalai, anakmuda sepertinya ga mau untuk ke sawah… hanya orang2 tua yg masih rajin ke sawah… kerjaannya anak muda di tempatku ya itu… ngojek, nongkrong, kalo punya uang, dipinjamkan tp mengembalikan dgn berbunga… angkutan umum saja kalah dengan kendaraan bermotor..

    1. Wah makasih dukungan informasinya mba erwin…
      itu membuktikan kalau apa yang aku amati dan aku tulis dialami juga oleh orang lain… he he he…

      Prihatin mba dengan kondisi itu, rasanya makin hari desaku juga makin kering kerontang rasanya… panas rasanya untuk ditempati baik secara fisik dan secara jiwa…

      Tak ada lagi kesejukan rasanya…

    1. Ah masa sih mas…
      ane gak percaya deh… berarti ngeblog sambil nunggu penumpang yak ?

      wah boleh dong diceritakan pengalaman ngojeknya..
      atau sanggahan terhadap argumen-argumenku di atas…. 😀

    1. Wah kalo nypet juga udah banyak saingannya mba… dan butuh skil yang lebih tinggi dan resiko pekerjaan juga besar. Kalo ketauan parah tuh akibatnya…

      babak belur dihajar masa

  9. PAda dasarnya aku setuju tuh mas…

    Soalnya…sebenernya aku tuh kurang nyaman kalo harus naik ojek…
    risi aja gitu…
    Tapiiii…berhubung aku tinggalnya di komplek…adanya cuma tukang ojek…terpaksa deh 😦

    Tapi 1 hal yang bikin bete banget adalah…pernah waktu itu mau ada trayek angkot yang diusulkan untuk masuk komplek…dan …terjadi demo besar besaran dari para tukang ojek itu…argh!!!

    1. Ha ha ha.. ini juga korban dari keberadaan mereka…

      Kalo boleh tanya mengapa risi naik ojek ?
      Trus kalo boleh menjawab karena perilaku dan penampilan mereka yang kriminil mba yah dan lagi ditambah dengan agak mata keranjang kalo liat yang bening-bening…

      Tapi sebenarnya bisa diakali koq mba… yaitu dengan berlangganan ama tukang ojek yang bener-bener ngojek, bukan untuk sampingan nongkrong di jalan

      he he he tanya koq dijawab sendiri….

    1. Wah bisa banget mba mawar..
      kesenduan mereka juga sring aku liat koq, yaitu saat-saat mereka sedang melamun menunggu penumpang yang tak pasti datangnya…

      Menghayal hari ini dapet penumpang yang banyak, sehingga dapet duit yang banyak dan bisa untuk membeli ini dan itu…

      Gelisah memikirkan kebutuhan yang makin hari-makin besar saja… dan terus bertambah… wah.. pokoknya begitu deh..

    1. Nah tuu kan…
      mba Novi udah mmembuktikan sendiri apa yang aku tulis di atas. Perasaan tidak nyaman kalao melewati perempatan atau pertigaan jalan.

      Biasanya kalo ada permpuan cakep lewat pasti digodain..
      orang cowo aja kadang digodain juga… tapi cenderungnya diajak berantem..

    1. Wah kalo itu dari dulu bur guru…
      Kalo di pandang dari sisi syar’i udah nggak karuan pokoknya.
      Tapi untungnya tukang ojek di sini gak ada yang perempuan jadi cuma laki-laki. jadi masih bisa menjaga lah kalo misal lagi sama istri, naik ojeknya dengan cara motornya suaminya yang bawa sampe tujuan nah kedua ojek naik motor yang satunya..

      Itu yang pernah aku praktekan dulu pas berkunjung ke rumah mertua… he he he…

  10. wah itu mah bukan tukang ojek, tapi geng motor,,
    ojek hanya pekerjaan sampingan,,

    untuk saya sih tukang ojek masih ada juga manfaatnya, kalau sedang bertandang ke rumah paman di jakarta saya kadang naik ojek, apalagi kalau sedang buru-buru. Dari stasiun gambir biasanya 20ribu loh. 😳 Apa lagi waktu pertama kali, tidak tahu jalan. Dan pastinya lebih aman dari macet.

    Tapi jangan salah loh, ada juga dosen yang nyambi jadi tukang ojek di wilayah timur sana (bukan saya loh). Ingat juga ada kepala sekolah yang nyambi jadi pemulung untuk mencari penghasilan tambahan untuk pengobatan istrinya yg sedang sakit.

    Hemat saya tidak semua profesi itu buruk, ada juga orang-orang yang memang bersungguh-sungguh karena memang tidak punya keahlian atau tidak diberi kesempatan untuk pekerjaan lain. Kecuali profesi yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai agama, seperti mencuri, wts, copet dll.

    Yang penting adalah bagaimana pemerintah bisa menertibkannya agar hal-hal yang meresahkan dan mengganggu dapat dihindari.

    salam

    1. Om Agus…
      kalo itu menurutku masuk yang 10% dari apa yang aku sebut…
      yap memang tidak bisa dipungkiri kalau ada orang yang ngojek itu bener-bener untuk cari nafkah. Di semua tempat pasti ada.

      Tapi yang aku liat adalah kebanyakan dan secara umum terutama di daerah-daerah. Hampir semua tempat di daerah sekarang kondisinya yaaa mungkin yang mas agus bilang adalah geng motor..

      Tapi belum cukup untuk disebut geng motor soalnya keanggotaan gak tetap, gak punya nama serta mereka itu tiak punya satu ikatan yang resmi. Hanya saja beberapa kelakuan mirip dengan gend motor.

      Silahkan amati di daerah-daerah bahwa hal-hal yang ane sebutin itu terjadi..

      hi hi hi

  11. ou…bahasannya masih makro….hehehe…mungkin perlu studi kasus spesifik, misalnya geng ojek di pangkalan A daerah B…nanti pasti analisanya jadi lebih tajam (mungkin jadi berbeda dgn pandangan makro di atas 🙂 ) dan bermanfaat 😀

    1. Aslinya itu hasil pengamatanku koq mas, gak ngeliat makro apa mikro. Emagn sih liatnya di pangkalan A, B dan seterunya, dan persamaanya itu yang aku tulis di sini, karena masing-masing tempat punya persamaan yang dominan…

  12. tukan ojek memang kyk semut sekarang, byk bgt dan dimana saja. hal ini sebagai akibat dari tekanan ekonomi dan yg kedua adalah murahnya mendapatkan motor skr, bayangkan dengan DP 500.000 saja sudah dapat memiliki sebuah motor, tentunya tanpa mempertimbangkan efek negatifnya

    1. Yaa itulah kalo kita cuma jadi konsumen… selalu akan dalam posisi yang sulit. Tapi itu masih mending lah dari pada mereka bertindak yang kriminal seperti perampok atau pencopet dan sejenisnya…

      Tinggal kitanya aja pandai-pandai bergaul dengan mereka. Walopun sebagaian besar imej mereka sekarang agak jelek (di pandang dari sisi tertentu) tapi masih ada yang baik hati dan bener-bener ngojek.

      Maksudku dipandang dari sisi tertentu adalah apa yang aku liat di atas.

    1. Yaah itulah mba yang aku liat di daerahku… dan banyak daerah lain.
      logikanya dapet koq :
      1. Mereka akan nongkrong dijalan atau pos sampe larut malam, awalnya buat penghangat badan.. lama-lama kan ketagihan…
      2. Solidaritas dalam satu pos / pangkalan ojek akan muncul dengan sendirinya karena seringnya mereka bersama di tempat itu. Kalau ada apa-apa dengan salah satu anggotanya maka temen-temen yang lain akan membantu termasuk jika ada masalah dengan perkelahian… biasanya yang lain akan turun tangan juga…

      silahkan amati sendiri…

  13. menurutku kurangnya lapangan kerja, lagian siapa yang mau jadi tukang ojek kalau maslah pendapat belum tentu bisa mencukupi, kalau bisa mungkin mereka mau jadi anggota dewan atau PNS…
    setidaknya kehadiran ojek sangat membantu..

    1. Tapi pengalamnku sih seringnya mereka menjadi pemandangan yang lama-lama kurang menyenangkan jika kita jarang atau nggak pernah naik ojek mereka. Kita akan dikira pelit dan sombong…

      Alasan mereka kita gak mau berbagi sedikit rejeki barang 5000 atau 3000…
      hmmm pilihan yang sulit emang kalau di depan komplek kita tinggal ada tukang ojek…

  14. Sebetulnya pilihan menjadi tukang ojek tidak salah, namun jika kebanyakan akan terjadi persaingan yang kurang sehat, memacetkan jalan dsb nya.

    Kondisi ekonomi sosial kita tak menyisakan banyak pilihan, terutama bagi orang yang berpendidikan dan ketrampilan terbatas.

    1. Betul sekali mba…
      Kalo mereka ditanya mengapa ngojek yaa umumnya mereka akan menjawab karena tidak ada pilihan lain untuk mereka,

      Uh kalo pernah lewat di daerah karawang mulai dari johor ke arah cikampek terutama di pasar kosambi itu yang namanya tukang ojek parah sekali. Aku pernah walo masih di dalam angkot udah dikejar-kejar tukang ojek, bahkan melihat ke arah merekapun, mereka mengacungkan tangan agar kita naik sama mereka.

      Hmmm kalao yang kaya gitu persaingan pasti sangat tinggi

  15. Kalo ditelusuri efek negatifnya bisa merambah kemana-mana ya. . . Ckckck

    kalo ditempat tinggal saya di kota Gresik justru agak berbeda. Jarang sekali saya temukan tukang ojek disini. Alasan pertama karena tarif angkot cenderung lebih murah,
    di tempat saya, becak justru lebih dominan daripada ojek. Namun Setidaknya becak tidak menambah polusi udara :mrgreen:

    1. Bener mba… kaitannya itu sangat kompleks bukan cuma karena kurangnya lapangan kerja.

      Dan kalao beda daerah beda kondisi itu aku setuju, karena banyak hal juga yang mempengaruhi, termasuk didalamnya adalah kondisi jalan, pemerataan lapangan kerja dan etos kerja masyarakat di situ.

      Mungkin daerah mba sedikit karena sudha ada angkot atau becak dan ojek mau masuk nggak enak sama yang sudah ada, biasanya mereka itu dulu-duluan koq. Tapi malah didesaku itu dibagi jamnya angkot hanya boleh sampai jam 14.00 siang soalnya kalo ada penumpang buat jatah tukan ojek…

    1. Iya bener kang…
      Paling tidak levelnya perda soalnya kondisi antar daerah berbeda-beda. Ada yang sepi, ada yang rame ada yang sepanjang jalan isinya hampir tukang ojek semua…. huwwaaaaa……

      Tapi apa mungkin mereka patuh yak ?

      1. Kalo perda gak usah sampe departemen perhubungan pusat kang..
        bupati aja cukup…

        tapi aku yakin tukag ojek sekabupaten akan demo ke kabupaten…
        waakakakaaa

    1. He he he… ternyata nasibnya sama dengan saya…
      Tapi menurutku mereka sih bukan tawon, tapi singa apar melihat rusa… dikejar sampe dapet….

    1. Ngojek sama abang mau gak ?

      Tenang gak ditimpuk koq ?

      he he he…
      kalo ojek payung mah yang ada kasihan ama mereka…
      demi receh mereka rela menanggung resiko ujan-ujanan…

    1. Ah yang bener…
      masa baru tau… berarti selama ini gak pernah naik ojek yaa…

      tapi coba sekali-kali naik ojek.., apakah ada perasaan takut diapa-apain gak ?

  16. paling setuju dengan sebab nomor satu mas ahsan. lapangan pekerjaan memang menjadi problem bangsa ini. hal ini lebih diperparah dengan kondisi kebnyakan orang indonesia yang bermental pegawai. kita lebih suka menjadi abdi orang lain dari pada berusaha menciptakan lapangan pekerjaan.

    great posting bro.
    salam…. Merdeka…!!!

    1. Ya itulah mengapa aku taruh menjadi nomor satu karena alasan lapangan kerja yang semakin sedikit adalah yang paling dominan. Alasan lain itu satu dua saja…

      Tapi menurutku kalo kebanyakan bermental pegawai mungkin dari kalangan menengah ke bawah saja. Kalau dari kalangan menengah ke atas yaa jarang lah yang ingin anaknya jadi pegawai.. (itu menurutku lhoo dari temen-temen yang aslinya mereka udah kaya, rata-rata ingin anaknya pengusaha seperti orang tuanya.

    1. He he he… iya bener banget…
      jadi tukang ojekpun banyak saingan dan lokasi mangkal yang terbatas. Belum lagi dalam mencari penumpang yang susahnya minta ampuun…

  17. Sejauh ini saya sependapat dengan argumenmu, apalagi kalau tukang ojeknya itu terlihat masih muda dan sangat produktif.

    tapi, masih mending jadi tukang ojek si dari pada pengamen….

    1. He he he… berarti ntar suatu saat udah gak setuju ama argumen-argumenku yak…
      yaa namanya aja argumen mas.. harus siap untuk berganti ketika sudah tidak sesuai lagi…

      Tapi yang akutulis di atas bener-bener dari apa yang aku liat terutama di daerahku sana di kampung halaman… anak-anak muda yang produktif menjadi banyak yang pengangguran karena dibut sendiri. mereka lebih senang nongkrong di jalan dari pada mengolah lahan pertanian yang jika diserusi akan menghasilkan duit yang menjanjikan…

      Wah kalo soal pengamen itu aku belum punya argumen apa-apa.. ntar deh aku coba melakukan pengamatan dulu he he he :mrgreen:

    1. Yaa begitulah mas..
      tapi sejauh ini tukang ojek menurutku masih juga pengangguran. Aku beberapa kali berdialog dengan tukang ojek yang aku naiki…

      mereka saat ini belum puas dengan kondisinya… (masih merasa nganggur) ngojek hanyalah pelampiasan sementara daripada tidak ada pekerjaan sama sekali…

      Itu kalo yang aslinya ada etos kerja..

      tapi kalo yang gak ada itu alesannya lain lagi… :
      Mending nyantai, punya motor, banyak temen dan bahagia nongkrong di jalanan. Walau sebenernya itu ada pertentangan batin dengan dirinya sendiri…

      just my opinion

  18. mungkin kalau profesi sebagai tukang ojek menurut saya yaa… 😛 lebih banyak berkumpulnya sama keluarga karena dia bisa istirahat jam berapapun itu di rumah, misal, dia ngojeknya skitar jam 8 sampai jam 12 siang, nah dr jam 12 itu sampai jam 2 dia banyak berkumpul dengan keluarganya. waktunya dibuat untuk keluarga..

    klw masalah ada yg ngebut2 itu mah emang tukang ojek nya aja yg memang seperti itu… nggak menghargai rambu2 lalu lintas…

    1. Wah nggak juga mba…
      dari apa yang aku liat selama ini, tukang ojek malah cenderung lebih senang ketika bersama teman-temannya di pangkalan atau pos ojek. Persentase orang yang berprofesi tukang ojek dan bener-bener ngojek untuk cari nafkah itu lebih sedikit.

      Kebanyakan (yang aku liat) mereka akan pulang kerumah larut malam…
      pokoknya waktu untuk keluarga malah sedikit

    1. Salam kenal balik bang…

      Lho setauku ada koq… cuma namanya bukan ojek yaitu bentor/rbt
      yaitu becak montor… (mungkin sekarang sudah sedikit)

      Aku pernah naik bentor. yaitu motor yang disebelah sampingnya dikasih tempat duduk, jadi muatannya bisa lebih banyak..

  19. Kayaknya nggak semua begitu deh. Contohnya di desa My Husband di pelosok gunung sana, emang dibutuhkan ojek karena tidak ada angkot, delman apalagi becak, sementara untuk mencapai perkampungan jauuuh. Trus, umumnya ojek adalah profesi sampingan, karena profesi utama mereka adalah petani. Jadi sambil nunggu panen, mereka ngojek. Namun memang ada juga yang murni berprofesi tukang ojek. Orangnya juga pada baik-baik dan sopan-sopan, mungkin karena saling kenal/tetangga sendiri.
    Beda ‘kali ya tukang ojek di desa dan di kota..

    1. He he he… pastinya ada pengecualian lah mba.. dan aku juga bilang yang aku sebutkan adalah kebanyakan.
      Yaa itu aku yakin kondisi awal ada tukang ojek di situ atau di desa mba desi adalah desa yang agamis atau juga

      Beda lho mba.. dengan daerah/desa-desa udah lama ada tukang ojek di situ, ujung-ujungnya megarah pada hal negatif yang aku sebutkan di atas…

      he he he (maksa)

  20. setujuh delapan sembilan….banyak tukang ojek karna kredit motor sangat gampang, ga bisa ngelunasin motornya ya balikin aja motornya…, saya malah bertanya2 kenapa kridit motor begitu mudah emang ga rugi ya 😀

    1. Aku yakin soal kredit motor dengan model seperti itu, produsen motornya udah melakukan survey sana sini sehingga mereka berani seperti itu.

      Dan yang gagal kredit persentasenya kan dikit dari pada yang sampai lunas. Apalagi dalam masa persaingan sengit dan berdarah-darah antara honda, yamaha dan suzuki…

      he he he

    1. Lho kenapa cem ?
      Pusing dimananya yak… perasaan biasa aja koq..

      atau jangan-jangan mba cem-ceman juga berprofesi jadi tukang ojek ?
      ha ha ahaaa…. 👿

  21. hadewh,,,,, emang rumit yak…
    jamannya makin edan >_<

    btw, komeng" di atas dah oke punya banged kek nya….
    heheh…
    soal kredit motor itu… jangankan DP 500rb san… bahkan yg nggak pake DP pun bisa loh… banyak sudah sekarang… mungkin itu juga yg menyebabkan lalu lintas semakin macet yak… terlalu banyak motor bertaburan.. kesian supir angkot jadinya klo begene… huff….

    QK suka dech baca tulisan" di sini 😀

    HIDUP!!! ^_^

    1. Komeng yang mana mba ?
      apa komennya mba cem yak … he he he.. emang oke banget tuh…
      sekali baca langsung pusing.. :mrgreen: tapi nggak tau tuh pusingnya karena apa..

      Setuju dengan pendapat QK, yang bikin macet di jakarta adalah motor sebagai penyebab kedua… (yang pertama adalah angkutan umum a.k. metromini, angkot yang berhenti sembarangan di jalanan dan bikin macet…

    1. He he he… bosan yah mas..
      iya neh karena kesibukan ke sana dan sini jadi jarang kesempatan untuk update blog. Rencana ntar sore deh aku sempetin untuk update postingan ini blog…

      Banyak sih sebenarnya bahan postingan, tapi lagi belajar memfilter mana yang perlu dan yang nggak..

      Kalo soal pornografi aku sudah terlalu sakit hati untuk membahasnya… mending langsung jauhkan diri aja deh dari pada membahasnya…

      Ibarat mengajak orang untuk menjauhinya langsung aja jewer kupingnya atau hajar bila gak mau. Percuma soalnya banyak sudah racun pornografi mejangkiti pemikiran kebanyakan orang. Ntar alasannya yang seni lah, yang HAM lah, intinya gak mau berpaling dari hal-hal porno…

  22. Masih nyambung dengan banyaknya tukang ojek,

    Kebanyakan wanitanya tidak mau tinggal di istananya sih, padahal kan enak, tidak nyari nafkah, yang nyari nafkah laki-laki,

    jadi bukan wanita bekerja, sehingga selain mengurangi lapangan kerja laki-laki, juga akibat jelek yang lain numpuk….

    Jadilah wanita-wanita pencetak kader-kader bangsa,

    Wanita karir sejati adalah wanita karir di istananya… bukan jadi wanita kurir untuk mencari dunia,

    Wahai wanita, engkau sekolah tinggi hingga mendapat S1 sampai S3….

    Untuk siapa???

    Sedangkan anakmu engkau berikan pada pembantu yang hanya SD 1 , negeri lagi…

    Mau jadi apa??

    ngiklan lagi nih, baca disini : http://aslibumiayu.wordpress.com/tag/wanita/

  23. @maulana mufti
    wah kalo soal wanita karir itu butuh pembahasan yang panjang. Tidak bisa langsung divonis seperti itu. Butuh sebuah pendekatan yang pelan dan ekstra hati-hati. Terlalu banyak hal yang terkait dalam masalah tersebut.

    Tapi sejauh ini hubungannya dengan profesi tukang ojek belum pernah aku menjumpai diprofesikan oleh seorang wanita.

    He he he walopun itu penting sekali, mungkin butuh suatu tempat diskusi yang khusus untuk membahas hal tersebut

  24. menurut mas dengan adanya ojek apakah dapat mengurangi polusi udara, dan kemacetan… karena yang menggunakan kendaraan kan berkurang dengan adanya ojek tsb.

    1. wakakaa wah pertanyaan mas sungguh membingungkan untuk dijawab. Sama halnya untuk pertanyaan seperti ini
      apakah dengan merokok akan dapat mengurangi kesehatan orang yang merokok itu ?

      Perbandingannya gak imbang mas. Yang jelas syarat untuk mengurangi polusi dan kemacetan adalah mengurangi jumlah kendaraan. Makin banyak kendaraan makin polusi dan makin macet.

      Trus antara motor dan angkutan bus itu 20 motor imbang dengan 1 bus. Yaa masih menguntungkan dengan tidak ada ojek.

  25. positif atau negatif tetep aja aku butuh banget yang namanya ojek. transportasi murah dan cepet daripada naik taksi apa bis kota…

    1. Wah udah punya langganan dong kalo begitu…
      tapi aku belum percaya lho kalo ojek itu lebih murah dari pada angkot atau bus kota, biasanya dua atau tiga kali lebih mahal dari pada tarif angkutan umum…

  26. sya sma suami sya azizi, sngat mmperhatikan calon anak kami yg ada dlam kandungan.
    dan sya sngat mnyayangi suami dan keluarga.

    love you azizi….
    mga aja klak anak qta nnti mnjadi pnerus yg baik dan soleh.

    amin……

  27. gaji saya masih kurang untuk keluarga jadi … memang ngojek tidak cape dah mendapatkan hasil lumayan … jadi jangan anggap jelek semua tukang ojek

  28. Selain ojek adalagi…yaitu makelar rumah kontrakan…..Di jogja hampir setiap hari ada saja yang cari kontrakan…ini di jadikan ajang jadi makelar para pribumi jogja….

  29. ya.. Penilaian org masing2, berbeda antara satu sm lain, krn masing2 juga punya pengalaman, intinya tidak semua tukang ojek membawa dampak negatif, semua tergantung individunya, jika masing2 individu punya landasan agama yg kuat sy rasa aman2 aja & pastinya membawa berkah tersendiri. Sy ingin berbagi pengalaman, sy seorang abdi negara yg tiap bln juga dpt gaji tetap. Pd suatu saat ditempat tugas sy ketika umat Nasrani merayakan hr natal, mayoritas masyarakatnya melaksanakan ibadah di gereja, sedangkan lokasi gerejanya agak jauh & angkot yg biasanya digunakan sbg alat transportasi sehari2 juga libur, krn sopirnya juga pada melaksanakan ibadah. masyarakat kesusahan jika harus jalan kaki dgn jarak yg jauh, oleh krn itu sy bersama rekan2 & juga masyarakat muslim yg lain memberikan jasa ojek kpd masyarakat Nasrani yg melaksanakan ibadah, Jd simbiosis mutualisme bgitu… Apalagi kalo spt sy yg jauh sm anak & istri (di Pulau Jawa), kalo pas lagi sendirian dr pada melamun atau melaksanakan kegiatan yg gak jelas mendingan ngojek aja, selain bnyk teman juga lumayan hasilnya bisa ditabung untuk modal usaha yg lain, ya to… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.