Cerita Masa Kecil – Mandi Di Sungai Bersama Teman – Gak Pakai Malu – Soalnya Gak Pakai Baju !


Aku orang desa, I’m villager, Nyong wong ndeso !
Ha ha, dari pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dulu ketika aku kecil, tempatku bermain adalah alam yang masih alami, masih liar dengan teman-teman yang lugu dan fisik yang kuat-kuat. Postingan ini akan bercerita sebagian dari ingatanku yang kalau aku teringat, betapa bahagianya masa kecilku !

Dulu sehabis pulang sekolah (masih SD), yang aku lakukan adalah bermain. Pokoknya bermain dengan tema membantu orang tua. Yah apapun yang dilakukan setelah pulang sekolah adalah ada membantu orang tuanya. Misalnya cari kayu bakar atau repek, cari rumput atau ngarit, membersihkan halaman rumah yang luas, atau juga memberi dan ngurus ternak ayam. Habis itu pergi mengembara ke kampung sebelah untuk bertemu dengan teman-teman.

Lha, ke kampung sebelah koq mengembara ?
Iya lah, untuk anak kecil sumuran 7 tahun, waktu itu pergi ke kampung sebelah adalah cukup beresiko. Jauh dan di jalanan masih banyak hewan liar mulai dari ular sampai anjing. Yang menjadi masalah adalah sepanjang jalan jarang sekali perumahan. Lha wong sampai sekarang, jarak rumah terdekat dari rumahku adalah berjarak 100an meter itupun melewati kebun. Dan kalau malam, baru umur 6 tahun aku berani berjalan sendiri dari rumahku ke rumah tetanggaku ini. Bayangkan betapa masih desanya tempat tinggalku.

Sudah menjadi kebiasaan orang-orang di desaku yaitu misalnya ngarit, cari kayu bakar di kebun tetangga yang jauh dari rumah adalah hal biasa. Ini menjadi dasar buatku berkelana ke kampung sebelah yang masih jauh dari perumahan. Waktu itu ada dua tempat favorit buatku untuk ngarit ataupun cari kayu bakar. Keduanya adalah alas (hutan kecil) yaitu kalimanggis dan sikompol.

Alas kalimanggis dari rumahku jalan kaki naik 2 bukit ke arah selatan, kemudian turun bukit ada sekitar 1 kilo. Kalau lagi pas di puncak bukit, laut selatan jelas banget terlihat dengan sangat indahnya. Suasana alamnya masih sangat alami, dengan tanaman pakis rambat yang mewarnai hampir tiap jalanan. Masih sedikit disentuh tangan manusia, masih banyak kera, ular besar dan ayam hutan.

Kalau alas sikompol dari rumahku turun dua bukit ke arah utara jalan kaki sekitar 3 kilo kemudian naik bukit liar sekitar 200 meter. Ada sungai di antara lembah perbukitan yang orang ditempatku menyebutnya kali lampeng. Suasananya lebih manusiawi dari alas kalimanggis karena sudah ditanami pohon tahunan sama pemmiliknya seperti kopi, mangga, kelapa. Pokoknya kalau aku kesana dijamin nggak akan kelaparan. Tinggal metik tapi jangan dirusak.

Ha ha ha itu namanya mencuri.
Tapi sama yang punya biasa aja tuh, yang penting tanamannya nggak dirusak. Iya, itu pikiran kami waktu itu. Entah pemiliknya ikhlas atau tidak, sampai hari ini nggak pernah tuh dimarahi. Mau dimarahi bagaimana, orang menuju lokasinya saja butuh tenaga dan waktu. Lebih capek dari pada marah-marah sama anak-anak kecil yang pasti bandel. Hari ini kapok, besok di ulang lagi. Xixixixixxiiii,

Biasanya kalau mau ngarit atau cari kayu bakar, kita janjian hari dan jamnya. Tentunya habis pulang sekolah atau kalau hari minggu. Temen-temen SDku mulai dari cowok dan cewek pergi bareng. Bawanya arit, golok, keranjang rumput, dan tali. Nggak pakai bawa air minum pakai botol. Kami anak-anak yang sudah familiar dengan alam. Minum air sungai juga oke.

Nah di tempat-tempat inilah kami mengubek-ubek isi alas untuk di ambil rumput ataupun kayu bakarnya. Naik bukit, turun bukit, naik pohon, loncat antar pohon. Sangat menyenangkan. Apalagi kalau lagi di kebun kopi, kami punya pohon favorit untuk dinaiki dan ngaso kalao lagi capek.

Sambil leyeh-leyeh di atas pohon kopi, kami menikmati biji kopi yang sudah mateng. Enak lho, yang dimakan itu kulit bijinya yang sudah mateng. Lha wong luwak saja doyan, apa lagi kami anak-anak kecil yang lagi dalam masa pertumbuhan. Apa saja di makan.

Oh iya, cerita soal makan, aku jadi ingat kalau alas ini lagi musim buah salam. Kalau selama ini kita makai daun salam untuk bumbu masak, buah pohon salam juga enak untuk dimakan. Rasanya sepet-sepet manis gitu. Cara makannya ya gampang. Tinggal naik ke pohon yang tinggi, dan makan di atas sambil menikmati goyangan pohon yang terkena angin.

Nih sedikit gambaran mengenai buah salam

Cerita lain mengenai makanan alas / hutan akan aku ceritakan lain kali.

Atau juga kalau musim mangga, kami bahkan secara sengaja, habis pulang sekolah janjian untuk makan mangga bersama di alas. Ha ha ha, alasnya orang lho ! Tapi itulah yang terjadi. Kadang sampai 5 orang naik satu pohon manggan, duduk manis di atas di dahan pohon kemudian nyawel buah, dikupas dan di makan di atas pohonnya. Sungguh nikamt sekali. Apa lagi di tambah bumbu kepuasan dari setan bahwa makanan yang mencuri di kebun orang, rasanya lebih nikmat dari kebun sendiri . Hi hi hi

Halah koq malah mbahas makanan sih ? Cerita mandinya mana ?
Nhaa kalau keranjang rumput kami dan penuh atau kayu bakar kami dan segulung dah sudah berat mbawanya, dan sudah leyeh-leyeh di pepohonan, acara selanjutnya biasanya adalah mandi di sungai. Bareng-bareng byur cowok dan cewek njebur jadi satu. Yaaa kalau di perhatikan pokoknya mirip babi berkubang lah. Jebar-jebur loncat dari tebing dengan berbagai gaya. Dan waktu itu 99% adalah njebur gaya batu. Yang penting loncat dari tempat yang tinggi.

Di mana kami berenang ? Eh salah, lebih tepatnya berkubang ?
Kami memiliki sebuah lubuk favorit yang aslinya libuk itu kecil memanjang, tetapi kemudian kami bendung sehingga ukurannya lebih luas dan panjang. Ya sekitar 3 meter x 10 meter juga ada. Cara kami membendung lubuk ini dengan bergotong royong mengumpulkan batu dan rumput untuk bikin bendungan.

Air sungai yang masih bersih, nggak banyak limbah membuat kami nyaman, kalau lagi renang dan kepaksa minum ya nggak masalah. Paling yang ketelen adalah lumut, telur ikan atau cacing.

Oh iya, sebelum dipakai untuk berenang, kami biasanya membersihkan lubuk itu dulu dari misalnya duri atau benda-benda lain yang kira-kira membahayakan. Yang paling kami sebelin adalah kalau ada pohon salak yang hanyut kebawa air dan nyangkut di lubuk itu. Harus gotong royong membersihkannya.

Selain duri-duri tanaman atau bambu yang runcing, yang membuat kami cukup waspada alah kepiting sungai. Pernah adaa temenku yang lagi menyelam tiba-tiba keluar dari air sambil nangis. Ternyata pantatnya di capit yuyu atau kepiting sungai. Sampai berdarah karena capitnya yang tajam dan keras.

Lho koq pantatnya ? Emang nggak pakai baju ?
Owhalaaaa . kami itu mandi di kali tanpa sehelai bajupun dipakai. Soalnya kalau ketahuan kami habis mandi di kali, sama orang tua, ya contohnya mamaku, pasti nyampe rumah dikasih pengobatan ekstra yaitu digebukin pakai kayu agar tak lagi-lagi mandi di sungai.

Lha bagaimana dengan yang cewek ? Mereka telanjang juga ?
Kalau mereka nggak telanjang bulat, celana dalam masih dipakai. Yaah untung waktu itu kami belum teracuni ama pornografi kayak anak-anak seumuran sekarang. Kalau anak sd kelas 5 atau 6 kan payudaranya dah mengkel maksudnya mulai tumbuh. Tapi ya bagi kami waktu itu biasa-biasa aja.

Malah ada sebuah batu besar yang lebar dan rata, tempat kami berjemur mengeringkan badan sebelum pulang. Bisa kami berjejer telanjang bulat campur cowok dan cewek. Nggak ada masalah tuh !

Oh iya satu lagi, khusus kami yang cowok, kalau habis renan biasanya ada ritual spesial, yaitu kami berdiri berjejer di tepian lubuk kemudian kami kencing bareng-bareng ke lubuk. Tujuan kami cuma jauh-jauhan air kencing. Siapa yang air kencingnya paling jauh dia yang menang. Hi hi hi, kalau cewek mana bisa ! ๐Ÿ™‚

18 thoughts on “Cerita Masa Kecil – Mandi Di Sungai Bersama Teman – Gak Pakai Malu – Soalnya Gak Pakai Baju !

    • Itu dia mas, kalau kelaamiannya kayaknya masih, cuma nggak sesubur dulu, dulu ibarat malam makan sambel, trus pagi bab di kebun, maka dah diapstikan akan panen cabai beberapa waktu kemudian.

      kalau sekarang dah perlu pupuk tambahan …

  1. wah seru banget ya masa kecilmu ahsan. Apalagi ada acara lomba siapa kencing terjauh. pastinya seru tuh karena kayanya jantan banget kalau dilihat para anak perempuan

  2. Ping balik: Cerita Anak SD Mandi Disungai – Nggak Pakai Baju – Nggak Pakai Malu ! | Ahsanfile

  3. Ping balik: Realita Pedophilia Di Sekitar Kita – Cerita Sex Anak Kecil | Ahsanfile

  4. waduh senangnya masa kecil,
    diselimuti dg kegembiraan,
    ceritanya persis kyak kampung gua tempo dulu,
    tp skrang dh sdikit modern,

    nice blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.