Kebahagiaan itu pada jika kita lelah jiwa dan raga kemudian kita menikmati hasilnya


Beberapa hari yang lalu aku makan siang di sebuah warteg dan melihat hal yang selama ini aku rasakan. Yaitu menikmati rasa makanan yang sedang aku santap.

Aku melihat ada seorang tukang rongsok alias pencari barang-barang bekas. Sudah tuaa sekali, tapi masih bekerja keras untuk hidup. Di tengah hari-hari yang terik dan berdebu, dia harus mencari barang-barang bekas untuk dijual lagi entah dengan harga berapa.

Ku lihat dia memesan nasi + sayur kangkung dan air putih anget. Hanya itu saja, sangat kontras denganku yang lauknya lebih banyak dari pada nasinya. Plus gorengan dan minumnyanes teh manis.

Aku yang merasa ada kesenjangan, aku menjadi kasihan sama bapak tua itu. Tetapiii… tak kusangka ada hal yang membuatku merasa jauuuh tidak lebih baik yaitu ketika dia menyantap makan siangnya.

Aku lihat dia begitu menikmati makannya. Suap demi suap dia rasakan enaknya bisa makan. Keringatpun keluar membasahi pelipisnya, dielapnya keringat itu dengan sapu tangan dekilnya, kemudian dia sruput air putih angetnya…. dan ahhhh…. nikmaaaat banget kayaknya….

Lha saya…. makan itu cuma masuk mulut, kunyah dan telan. Kalau seret aku minum es teh manisku. Dan aku merasa harus cepat selesai untuk bisa lanjut ke tempat kerja melanjutkan job yang belum kelar. Cuma itu saja aku merasakan makan. Sungguh tak bisa seperti bapak tua itu.

Nggak selesai sampai di situ, bapak tua itu menyelesaikan sampai butir nasi terakhir dan tetea air terakhir. Aku bisa ikut merasakan kalau bapak itu begitu kenyang dengan makan siangnya, begitu lega rasa haus dan dahaganya. Beberapa kali dia sendawa dan menarik nafas panjang seperti melepaskan kelegaan yang sangat menentramkan hati.

Sungguh aku ingin bisa seperti bapak itu ketika makan, bisa menikmati setiap suap yang masuk dalam mulutku. Menikmati minum yang aku telan. Dan merasakan enak makan untuk setiap makanku.

Sering banget aku makan itu diburu waktu, makan sambil memikirkan pekerjaan, makan sambil ngobrol pekerjaan, makan sambil pusing memikirkan pekerjaan yang belum selesai.

Sering kali, urusan makan sudah tidak dilihat lagi sebagai sebuah kenikmatan karena diburu oleh sibuknya pekerjaan. Jika itu terjadi artinya mungkin penghasilan sudah mapan, tetapi sehari-hari cuma disibukan dengan kerja dan kerja.

Jika saatnya libur adalah waktu untuk refrershing dan mencari makanan yang enak-enak, karena sudah merasa sehari-hari makannya itu-itu saja. Kondisi itu berlaku pada mereka dengan penghasilan menengah ke atas.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Penulis: ahsanfile

Enak makan, enak tidur cukuplah itu di dunia... selalu memperbaiki keimanan di tengah lingkungan yang sudah rusak, cukuplah itu untuk akhirat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.