Selembar pembalut


Saat jiwa sedang mengharu biru
Dalam desah yang tertahan
Untuk sekedar menetapkan rasa
Di kala hati ingin melupakan beban

Ah terlalu berat rasanya
Untuk menahan hangat rasa
Untuk hati yang dingin
Dari sekian lama menunggu

Saat semua sudah mengiyakan
Ketika jiwa sudah menyatu
Hanya ingatan tentang batasan
Dan ada selembar tirai yang menjaga

Ah kenapa lupa tentang hari kemarin
Tentang waktu yang mengalir
Yang menebarkan ragu dan terhenti
Oleh bias merah dalam tirai

Wahai tirai yang menyembunyikan
Ternyata bukan sekedar pembatas
Tapi penjaga yang tak tertembus
Untuk waktu yang akan indah

Selembar pembalut menjadi tirai
Untuk menjaga waktu akan datang
Sampai bias merah itu berakhir
Agar tampak purnama yang sempurna

Tak lagi merah dan tertutup awan

3 Comments Add yours

  1. bluepurplegarden berkata:

    Selembar pembalut itu sekarang langka pak. Sekarang yang banyak tanpa pembalut. Banyak laki2 yg dp koretannya n banyak perempuan yg jual murah pembalutnya

    1. ahsanfile berkata:

      Aduh… ini pembalut beneran mas…

      Wakakaka… ini puisi tentang apa dah nangkep maksudnya mas ?

      1. bluepurplegarden berkata:

        yeh pak kalimatnya ae jelas gitu kok!!! coba pak ahsan cek lagi n renungi lagi. kalimatnya kan menjurus ke sana, apalagi pak ahsan suka yg nggedabrus gitu …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.