Sudi dan Dudi, #3 Selamat tinggal emak


#novel #novelpendek #halu #opop

Baca dulu part #1 ini dan part #2 di sini kemudian baru lanjut baca tulisan ini agar gak salah paham yak

Suatu hari ada keluarga emak yang datang, dan menginap di sana. Kami sih asik-asik aja karena bukan sesama kami kuching jadi gak kami hajar. Maklum kami sekarang adalah 2 kucing yang remaja yang telah melewati masa kanak-kanak dan beranjak dewasa.

Pagi pertama saudara emak itu dirumah, terjadi hal yang mengerikan. Kami baru selesai dimandiin sama emak, lagi mengeringkan badan dan sambil nyam-nyam nyanding susu. Ada yang teriak-teriak, ternyata saudara emak itu, lagi sarapan trus lagi ditinggal ambil minum, eh paha ayamnya hilang di piring.

Ngomel-ngomel dan marah-marah sambil nuduh kalau kami-kami ini yang mengambil ayamnya. Aku sama dudi sih cuek aja karena gak merasa. Dan tetap asik tiduran pasang muka kiyut kalau emak lewat atau datang.

Sambil liat kelakuan dudi yang mulai aneh-aneh tiap siang hari, katanya bijinya gatal, kaya gini nih pose dia kalau lagi mbersihin bijinya:

Aduh… fotonya terlalu gak sopan, jadi disensor. Kalau tetap mau liat ini fotonya

Kaya gitu deh… kelakuaan saudara saya. Banyak hal-hal aneh asik dengan dirinya. Kalau aku, lebih menikmati hidup. Misal dengan naik tumpangan gratis kaya gini:

Itulah kami sehari-hari. Bahagia dan berasa kaya majikan.

Tapiii… Saudara emak makin menjadi, katanya kucing kampung kaya kami emang sukanya nyuri makanan, naik-naik ke meja, nyolong gorengan dan kelakuan bejad lainnya. Segala keburukan kucing kayaknya tertuduh pada kami berdua.

Sampai suatu hari saudara emak bawa baby kucing yang kami gak kenal. Saya yakin sih itu dari luar negeri. Muka ama bulunya beda banget ama kami berdua. Daan dari sinilah masalah timbul.

Tiaap ketemu aku atau saudaraku, dia selalu bilang tuuh tiru adekmu, gak suka nyolongin ayam, gak suka naik-naik meja… dan kami bingung karena membayangkan saja kami gak bisa karena kami gak pernah melakukan itu. Kami masih ingat siapa kami. Hanya kucing jalanan yang kehilangan emak dan terlunta-lunta kemudian dipungut ibu jadi anak angkat.

ini Beti, step sister kami, dia cewe, tapi kelakuannya minus. Masih anak-anak.

Saudara emak sangat sayang sama Beti. Padahal tuh ya kelakuanya minus, kalau pup masih belepotan. kalau makan berantakan sekali dan herannya kalau liat kami, bagai liat hantu kayaknya. Ketakutan sekali dan dan lari masuk kolong.

Ini makin menambah kebencian sama kami. Saudara emak tiap hari marahin kami, padahal gak ada salah dan entah salah apa yang kami lakukan padanya.

Suatu hari ayam saudara emak hilang lagi yang di atas meja. Kami dimarahi habis-habisan. sampe dudi dipukul pakai kemocheng. Dan Dudi lari keluar rumah dan aku lari ke halaman rumah. Sembunyi ketakutan di bawah pohon. Hampir seharian aku gak boleh masuk, dikunci diluar rumah.

Aku pelan-pelan masuk rumah tapi gak melihat dudi, kayaknya dia bener-bener minggat keluar rumah. Aku lapar dan pergi ke rumahku, kandang yang disiapin emak. Tapi di sana aku liat saudara baruku lagi makan, dan hanya ada 1 tempat makan baru, sementara tempat makanku kosong ditumpuk di pojokan.

Aku sedih dan mencari emak. Aku ngusel-ngusel ke kakinya. Tapi emak kayaknya lagi sibuk kerja di rumah. Biasanya aku naik ke pangkuan emak dan ngusel, tapi kali ini gak berani. Saudara emak sedang duduk di sebelah emak.

Kemudian aku boboan di pojokan pintu sambil menahan lapar, seharian belum makan dan minum cucu. Sediiih

Tiba-tiba, badanku di angkat dan dilempar keluar pintu tanpa ada kata-kata. Aku kaget dan dilempar wadah makananku sama saudara emak… aku lari dan terus lari… keluar rumah…

Dan aku putuskan untuk pergi saja… aku keluar halaman lewat pintu kecil di gerbang yang dibuatin sama emak. Dengan sekuat tenaga aku kencingin dulu pintu itu sebagi tanda aku pernah di sana. Tapi gak ada pipis keluar. Seharian belum makan minum. Dan gak jadi.. aku lalu berjalan sambil melihat rumah emak yang sudah milai gelap sekali lagi…

Aku mulai berjalan pelan dan sedih. Tiba-tiba terdengar suara emak memanggil-manggil aku dan dudi. Aku lihat dari balik gerbang, aku sedih. aku tau kalau emak kehilangan aku. tapi aku harus pergi. Agar gak diperlakukan semena-mena lagi.

Maak.. aku pamit, aku pergi… dan sambil menangis aku lari .. pokoknya lari… di gelap malam. Selamat tinggal maaak…. maafkan aku.

Aku tidur di jalanan, lapar, ketakutan, gak tenang.. tapi lelah ini membuatku tidur… lelap…

Dan ini pagiku… aku kaget, melihat cewe maniis sekali disebelahku. Membangunkanku dan membawakanku seekor anak ayam. Tak percaya aku sabil melihat dia di sebelahku.. sambil ngusel-ngusel ke aku…

apa ini jodohku ? to be continued

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.