Tentang adat kejawen yang menghalangi pernikahan – Jika ada saudara yang meninggal harus menunggu setahun


Apa yang harus dilakukan ketika orang tua atau calon mertua melarang pernikahan karena ada saudara yang meninggal sehingga harus menunggu setahun lagi setelah hari meninggalnya saudara tersebut ? Menurutku seperti ini :

Pertama kita harus memilih untuk patuh pada satu keyakinan yaitu ajaran agama kita. Di sana kita akan diajari cara-cara untuk membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, termasuk bahwa ridha Allah tergantung ridha Orang tua kita selama orang tua kita itu melakukan sesuatu itu yang diridhai juga oleh Allah.

Kita wajib untuk nurut kepada orang tua selama orang tua kita tidak melanggar perintah dan larangan Allah. Tetapi jika orang tua kita melanggar perintah dan larangan Allah itu kita tidak wajib mengikutinya bahkan dianjurkan untuk menasehatinya dan mengajaknya ke jalan agama yang benar, tentunya dengan cara-cara yang baik. Tidak boleh dengan kekasaran. kekerasan dan hal jelek lainnya.

Dan yang harus dilakukan itu adalah mendalami ilmu agama dulu dengan benar, terutama untuk ilmu pernikahan. Dan dalam Islam itu tidak ada larangan atau pentangan perniikahan selain yang sudah disyariatkan. Ada-adat kejawen dan atau kepercayaan lokal daerah itu sama sekali bukan ajaran islam.

Pernikahan dalam islam itu sudah jelas rambu-rambunya yaitu pertama pada agamanya baru yang lainnya. Jika agamanya baik maka pernikahannya akan bahagia, jika tidak ya sebaliknya itu saja.

Tidak ada masalah dengan nomor urut anak, hari lahir, weton, arah rumah, orang tua meninggal dan lainnya. Itu semua hanya kepercayaan turun-temurun yang diwariskan dengan cara “katanya” atau “kata orang tua”. Dalam islam kalau sudah sesuai syariat dan sudah baik pengamalan agamanya, insyaAllah akan bahagia, selamat dunia akhirat.

Tetapi jangan dijadikan alasan agama yang kita sendiripun belum baik mengamalkannya kemudian menjadi alasan untuk kita memaksakan diri menikah. Itu sama saja nggak baik, malah akibatnya bisa lebih buruk. Karena bukan kesungguhan dalam menjalankan agama tetapi hanya didasari rasa cinta saja…

Itu pendapat saya, tetap berbuat baik sama orang tua manapun, kasih tau bahwa ajaran islam itu tidak melarang pernikahan selain yang dilarang dalam syariat. Dan yang membahagiakan, menyelamatkan itu bukan kepercayaan/adat, tetapi Allah dengan cara kita mengamalkan ajaran agamanya dengan sebaik-baiknya.

Oh iya, pernikahan yang dilandasi dengan pacaran sebelumnya juga itu tidak baik karena dalam islam itu pacaran adalah dilarang, yang artinya itu adalah perbuatan dosa. Sesuatu yang dilandasi perbuatan dosa adalah hasilnya juga tidak baik.

Ngalor ngulon – Daftar adat kejawen yang mempersulit pernikahan


Akhir-akhir ini karena saya lagi sakit, jadi aktivitas blogging dari foto menjadi terhenti. Ntar nunggu sembuh baru lanjut foto-foto lagi. Dan untuk mengisi acara istirahat total saya, aku tulis saja hal-hal yang sering ditanyaoan temen-temen padaku mengenai salah satunya:

Bagaimana meyakinkan orang tua yang tetap menggunakan adat kejawen sehingga rencana pernikahan menjadi gagal ?

Ada sebuah perhitungan jawa yaitu ngalor-ngulon. Arah rumah kedua calon itu jika ditarik garis lurus masih diantara area arah utara dan barat atau lebih gampangnya arah barat laut. Atau ada jalan lurus dari rumah calon yang satu ke utara kemudian belok ke arah barat dan disitu rumah calon yang satu lagi. Berlaku juga untuk arah sebaliknya yaitu arah tenggara.

Mengapa sampai menjadi larangan untuk melakukan pernikahan jika rumah calon itu memenuhi kondisi ngalor-ngulon ?

Nah kalau sudah sampai di sini, ada perbedaan antar daerah dalam prakteknya. Aku bercerita tentang yang di daerahku. Yaitu arah ngalor itu adalah arah orang mati dikuburkan. Arah ngulon itu arah wajah orang mati yang dikuburkan. Jadi ngalor ngulon itu sama seperti orang mati dikuburkan. Filosofinya seperti itu.

Kepercayaan yang muncul akibat ngalor-ngulon ini adalah nantinya kehidupan berumah tangga akan seperti orang mati. Rasanya seperti kematian. Bencana besar sehingga menyebabkan rumah tangga seperti mati. Bahkan sampai kepercayaan yaa anggota keluarga baik suami atau istri akan mati jika melanggar perhitungan ngalor-ngulon ini.

Kelemahan kepercayaan ini yaitu:
Ada atau lahir setelah islam masuk ke tanah jawa (atau kalau ada yang tau kapan persisnya bisa tulis dikomentar tulisan ini sebagai koreksi). Yaitu tentang cara-cara menguburkan mayat orang mati yang ngalor arah tubuhnya dan ngulon arah wajahnya. Pertanyaannya bagaimana dengan pernikahan sebelum masa islam masuk ke tanah jawa yang jika dihitung arah rumahnya itu ngalr ngulon.

Hanya berlaku di tanah jawa saja. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan daerah  lain yang juga arahnya ngalor ngulon ? Mengapa mereka tidak mengalami bencana seperti yang ditakutkan orang jawa yang percaya pada kondisi pernikahan ngalor-ngulon.

Tinjauan dari sisi agama:

Ini jelas sebuah kepercayaan terhadap sesuatu yang menandingi kekuasaan Tuhan. Ngalor-ngulon itu bisa mendatangkan bencana jika dilanggar. Jika dituruti akan memberikan kebahagiaan atau keselamatan. Hal ini sama saja dengan sebuah kesyirikan dalam ajaran agama islam.

Tetapi itu adalah sebuah kebenaran bagi penganut kepercayaan kejawen!

Dan ada orang yang sudah ngerti ajaran islam, tetapi mati-matian

mempertahankan ajaran kejawennya.

Dan ada orang yang marah dan tersinggung ketika disampaikan padanya tentang ajaran islam mengenai ilmu ketuhanan yang bersih.

Dan juga ada orang yang dengan logikanya tetap membenarkan kedua ajaran ini dan memakai keduanya.

Dan bagaimana sikap yang benar ?
Di sinilah letak hidayah Allah itu akan terlihat. Setiap orang ingin dan selalu berdoa agar setiap langkahnya dalam jalan dan lindungan Allah. Sehingga ada orang yang dengan yakin bahwa ajaran islam adalah satu-satunya pedoman hidup. Segala sesuatu yang bertentangan harus ditinggalkan.