Istriku, kamu tidak bisa ngurusin suami !


Habis menikah, seorang laki-laki biasanya langsung melar. Apalagi kalau tadinya adalah seorang laki-laki yang hidupnya merantau, apa-apa ketika masih lajang dikerjakan sendiri.

Istilahnya kerja kerja sendiri, makan makan sendiri, nyuci baju sendiri, ngelonin bantal juga sendiri

Nah, ketika menikah malah tambah melar dan tambah gendut. Pipinya tambah tembem, perutnya jadi buncit. Ini adalah tanda-tanda kalau sang istri itu sama sekali tidak bisa ngurusin suaminya.

Lho koq begitu ? Lanjutkan membaca “Istriku, kamu tidak bisa ngurusin suami !”

Istriku di rumah yang kedua


Mulai awal tahun pelajaran baru 2011, ada sedikit perubahan jadwal hidupku yaitu harus berbagi waktu secara adil untuk keluargaku di rumah pertama dan di rumah kedua. Iya, mulai bulan juli kemarin aku telah menempati dua rumah secara bergantian. Semua ini demi mengejar tempat dan kualitas pendidikan anakku. Iyah, ditempat baru inilah anakku sekolah dan menikmati masa kecilnya bermain dan sekolah sebagaimana aku waktu kecil.

Sebagai orang tua yang pengin memberikan yang terbaik bagi anak, aku dan istriku memutuskan untuk menyekolahkan jagoan pertamaku di sebuah lingkungan (hampir seperti pondok) yang lokasinya jauh dari tempat tinggal asli. Karena jauhnya inilah, kami memutuskan untuk menyewa sebuah rumah untuk selama anakku sekolah TK.

Lhah… apa di sekitar komplek tempat tinggal yang lama nggak ada ?
Ada sih, cuma nggak sesuai dengan kriteriaku dan istriku. Lagi pula dalam masa anak-anak, aku ingin anakku bisa menikmati masa kecilnya di sebuah lingkungan yang masih sejuk, banyak temen dan suasananya masih kampung (orang-orangnya nggak individualis). Hal itulah yang tidak aku dapatkan di tempat tinggal asliku di jakarta.

Tulisan ini bercerita tentang sehari-hariku dan keluargaku berada di dua rumah yang berjauhan. Ternyata membutuhkan perjuangan dan kesabaran untuk menjalaninya. Harus bisa berbagi dengan rumah pertama agar semuanya ke urus. Aku jadi membayangkan bagaimana repotnya orang yang mempunyai lebih dari satu istri mengurus keluarganya secara adil. Uugghhh berat kayaknya…..

Hari pertama aku dan keluargaku tinggal di kontrakan itu, terkena gatal-gatal di seluruh badan. Ternyata penyebabnya adalah uler bulu. Maklum, rumahnya berbatasan langsung dengan kebun. Jadi wajar banyak hewan-hewan kecil seperti uler, semut merah, belalang, jangkrik sering masuk rumah. Tak ketinggalan condolpun juga sering masuk rumah. Ini dari soal lingkungan alamnya. Lanjutkan membaca “Istriku di rumah yang kedua”

Salah mbonceng suami orang


Ini lebih tepatnya salah bawa istri atau salah suami pokoknya kaya itu lah !
Lupakan dulu kehidupan asramaku yang masih 3 minggu lagi. Saat pulang berlibur ini banyak cerita baru dari temen-temen. Salah satunya yang aku tulis ini. Kejadian ini nyata terjadi kata temenku beberapa waktu kemarin.

Jadikanlah ini warning jangan sampai salah membawa istri orang bagi ikhwan atau jangan sampai salah dibawa suami orang lain bagi akhwat.

Ceritanya bermula saat bubar pengajian rutin hari sabtu, ketika akan pulang. Sudah tahu semua kan, kalau saat ngaji antara ikhwan dan akhwat dipisah lantai, kebetulan mesjidnya 2 lantai. Ikhwan di lantai 2 dan akhwat di lantai 1.

Dan biasanya yang paling duluan bisa selesai beres-beres adalah para suami atau laki-lakinya. Kalau akhwat dah pasti beres-beres peralatannya lebih lama. Soalnya dari mulai bawa si kecil, bawa tas, bawa ini dan itu bahkan sampai ada yang bawa perabotan dapur seperti gelas dan ceretnya.. xixixiii hayooo ngaku.

Nah saat bubaran tak ada kejadian apapun, semuanya tampak normal-normal saja. Saat itu jam 12.30 an.

Sampai ketika semua orang tinggal tersisa dikit, ada ikhwan yang mondar-mandir nyari seseorang. Kebetulan, teman ane ada yang jadi pedagang di sana otomatis pulangnya paling belakangan karena harus beres-beres. Temanku kemudian nanya pada ikhwan itu ( sebut saja A)

“Koq sepertinya gelisan, ada apa ?”, tanya temenku pada A.
Kemudian dijawab :
“Ini tumben istriku lama banget gak keluar-keluar”, padahal tadi udah janjian mau pulang duluan, soalnya ada acara !”

Terus di depan pintu lantai satu mesjid dari tadi juga tampak seorang akhwat sedang berdiri gelisah entah sedang apa.  Kemudian temanku tanya pada A
“Lha itu siapa yang berdiri depan pintu yang dari tadi memperhatikan kita ?, bukankah dia istrimu ?”
Kemudian A menjawab :
“Bukan, aku kenal betul koq istriku”

OK temenku hampir pulang, tepatnya jam 13.30 (wah lama juga yah A nunggu istrinya !), kemudian datang seorang ikhwan datang membonceng seorang akhwat, tapi mboncengnya gak nempel. Kemudian akhwat itu turun dan langsung lari ke lantai satu. Sementara ikhwan yang baru darang itu (sebut saha B) datang ke temen kami dan A sambil gemetaran dan bilang :
“Aduh ampun, tobat…. ane salah bawa istri orang… gimana nih… gimana nih… ??”

Jreng…… A kemudian pasang muka serius… (jangan-jangan istrinya yang dibawa) Dan benar, akhwat yang baru saja datang itu adalah istrinya…. jreng…..

Seolah tak percaya A kemudian berganti melihat pada B. Tanpa di minta B menceritakan awal kejadiannya.

Seperti yang aku sebutkan di awal, biasanya para suami tinggal duduk manis di sebelum pintuk gerbang masjid, Ini juga yang dilakukan oleh B. Dia menanti istrinya datang. B bercerita sedang menanti dengan tenang, ada akhwat yang naik motornya, tanpa toleh ke belakang lagi dia langsung tancap gas.

B menceritakan kalau sepanjang jalan  yang diboncengnya (dianggapnya istrinya) memeluk perutnya dari belakang (kebetulan B pengantin baru) …. bla bla. bla B dan yang diboncengnya bercerita tentang kajian tadi. Otomatis tak ada kecurigaan kalo mereka sebenarnya salah orang.

Sampai suatu perempatan jalan, si akhwat bertanya pada B, koq kita lewat jalan ini
Jawab si B, lho kan biasanya lewat sini. Nhaa di sini keduanya mulai sadar ternyata yang dibonceng adalah salah orang. Tuing…….

Kemudian B  menepi dan berhenti, dan ternyata benar, akhwat yang diboncengnya bukan istrinya, padahal tadi di jalan sudah mesra-mesraan sampai ada acara peluk perut dan ndemblok (bahasa indonesianya = bersender dari belakang) haduuuhhh… gimana nih… keduanya kehilangan kata-kata….

Kemudian B berkata, ya udah balik aja ke masjid, pasti suamimu lagi menunggu di sana. Si akhwat bilang aku takutt… B bilang, ya udah ntar ane yang njelasin semua….

OK, kembali ke A dan temanku yang masih bengong mendengar cerita B. Temanku malah tertawa terbahak-bahak mendengar cerita itu. Sementara wajah B pucat pasi takut si A marah.

Temanku bercerita si A untuk beberapa saat kehilangan kata-kata dan tetap bengong. Mau marah pada siapa, yang jelas rasa tidak percaya dan heran campur aduk jadi satu.

Di saat yang bersamaan kedua akhwat yang bertemu dari jauh juga saling berbincang serius sekali.

Entah apa yang dipikirkan si A dan istri si B, yang jelas mengapa kejadian sempat boncengan mesra diceritakan segala… cembruuutuu….

:ngakak

OK deh sampe di sini temenku gak cerita banyak lagi. Terakhir ceritanya adalah mereka keempat orang itu kembali pada pasangannya masing-masing… dan pulang.

Yang jelas aku mbatin berpikir kaya gini.
Sepanjang jalan atau sesudah kejadian itu, istri B akan selalu cemburu bahwa suaminya pernah dipeluk wanita lain yang tidak syah… dan si B akan kehabisan akal untuk mencari alasan. Hanya satu alasan B menjawabnya “Habisnya dia langsung ngajak jalan, kebetulan udah masuk gigi 1, ya abi gak tengok-tengok lagi. tak pikir dia itu kamu….”.

Kemudian  dari sisi A akan sering mengucapkan “Kamu sih asal naik motor aja tanpa liat siapa yang di depan “.

hwa ha ha ha… lepas ini adalah salah siapa, yang penting jangan sampai kejadian ini terulang yah sama temen-temen…
(tapi kalo ane jadi B, mau koq 👿 )
xixixiii