Kebahagiaan itu pada jika kita lelah jiwa dan raga kemudian kita menikmati hasilnya


Beberapa hari yang lalu aku makan siang di sebuah warteg dan melihat hal yang selama ini aku rasakan. Yaitu menikmati rasa makanan yang sedang aku santap.

Aku melihat ada seorang tukang rongsok alias pencari barang-barang bekas. Sudah tuaa sekali, tapi masih bekerja keras untuk hidup. Di tengah hari-hari yang terik dan berdebu, dia harus mencari barang-barang bekas untuk dijual lagi entah dengan harga berapa.

Ku lihat dia memesan nasi + sayur kangkung dan air putih anget. Hanya itu saja, sangat kontras denganku yang lauknya lebih banyak dari pada nasinya. Plus gorengan dan minumnyanes teh manis. Lanjutkan membaca “Kebahagiaan itu pada jika kita lelah jiwa dan raga kemudian kita menikmati hasilnya”

Orang cenderung sensitif dalam kondisi tertekan dan lelah !


Kata-kata itu sudah sering kali aku dengar tetapi nggak bisa membayangkan kejadiannya. Jika membaca cerita atau melihat orang mengalaminya sudah pernah, tetapi untuk aku sendiri sepertinya belum pernah. Kemudian aku mencoba mengingat-ingat ketika aku mudah marah, aku ingat-ingat apa hal yang sedang menimpa waktu itu. Dan ternyata benar, dalam kondisi lelah, orang menjadi lebih sensitif. Cara berpikir juga sudah tidak lagi jernih.

Kondisi lain yang juga bisa menyebabkan orang menjadi pendek pikiran adalah ketika tertekan pikirannya. Pikiran dipaksa untuk mengerjakan dan menyelesaikan permasalahan untuk segera mencapai titik terang atau penyelesaian. Dalam keadaan seperti ini cara berpikir seseorang cenderung tidak lagi panjang dan mengambil jalan pintas.

Dalam salah satu kondisi di atas seseorang tingkat sensitifitasnya sudah meningkat, apalagi kalau keduanya dialami dalam waktu bersamaan. Tertekan dan lelah. Masalah yang sepele bisa jadi menjadi besar.