Istriku di rumah yang kedua


Mulai awal tahun pelajaran baru 2011, ada sedikit perubahan jadwal hidupku yaitu harus berbagi waktu secara adil untuk keluargaku di rumah pertama dan di rumah kedua. Iya, mulai bulan juli kemarin aku telah menempati dua rumah secara bergantian. Semua ini demi mengejar tempat dan kualitas pendidikan anakku. Iyah, ditempat baru inilah anakku sekolah dan menikmati masa kecilnya bermain dan sekolah sebagaimana aku waktu kecil.

Sebagai orang tua yang pengin memberikan yang terbaik bagi anak, aku dan istriku memutuskan untuk menyekolahkan jagoan pertamaku di sebuah lingkungan (hampir seperti pondok) yang lokasinya jauh dari tempat tinggal asli. Karena jauhnya inilah, kami memutuskan untuk menyewa sebuah rumah untuk selama anakku sekolah TK.

Lhah… apa di sekitar komplek tempat tinggal yang lama nggak ada ?
Ada sih, cuma nggak sesuai dengan kriteriaku dan istriku. Lagi pula dalam masa anak-anak, aku ingin anakku bisa menikmati masa kecilnya di sebuah lingkungan yang masih sejuk, banyak temen dan suasananya masih kampung (orang-orangnya nggak individualis). Hal itulah yang tidak aku dapatkan di tempat tinggal asliku di jakarta.

Tulisan ini bercerita tentang sehari-hariku dan keluargaku berada di dua rumah yang berjauhan. Ternyata membutuhkan perjuangan dan kesabaran untuk menjalaninya. Harus bisa berbagi dengan rumah pertama agar semuanya ke urus. Aku jadi membayangkan bagaimana repotnya orang yang mempunyai lebih dari satu istri mengurus keluarganya secara adil. Uugghhh berat kayaknya…..

Hari pertama aku dan keluargaku tinggal di kontrakan itu, terkena gatal-gatal di seluruh badan. Ternyata penyebabnya adalah uler bulu. Maklum, rumahnya berbatasan langsung dengan kebun. Jadi wajar banyak hewan-hewan kecil seperti uler, semut merah, belalang, jangkrik sering masuk rumah. Tak ketinggalan condolpun juga sering masuk rumah. Ini dari soal lingkungan alamnya. Lanjutkan membaca “Istriku di rumah yang kedua”