Enaknya Gonggong – Siput laut yang hanya ada di perairan sekitar batam, bintan dan belitung


Pernah makan siput laut ? Aku yakin kalau yang tinggal di daerah pantai atau yang hobby berburu kuliner laut itu sudah pernah. Tetapi sudahkah pernah makan Gonggong ? Aku yakin tidak semua orang walau tinggal di daerah pantai itu pernah memakannya. Karena gonggong hanya ditemukan di perairan sekitar batam, bintan sampai belitung dan sekitarnya.

image

Itu dia Gonggong, siput laut yang ternyata enak untuk dimakan. Nggak pakai jijik atau geli bagi orang yang nggak terbiasa makan makanan yang aneh-aneh. Contohnya saya yang masih suka jijik dan geli makan makanan laut tapi ketika disuguhi gonggong langsung iyah aja. Lanjutkan membaca “Enaknya Gonggong – Siput laut yang hanya ada di perairan sekitar batam, bintan dan belitung”

Uceng, bunga pohon melinjo jantan yang enak di sayur


Tadi, pas lagi jalan-jalan di Ragunan, aku nemuin pohon melinjo yang bunganya lebat banget. Dan setelah aku mendekat itu adalah pohon melinjo jantan yang hanya berbunga dan tidak bisa berbuah melinjo. Nanti setelah bunganya tua dan serbuk sarinya sudah matang, akan jatuh ke tanah.

Tadi aku sempatkan ngambil beberapa yang udah pada jatuh di bawah pohonnya. Kemudian ngambil fotonya:

image

Yang terlintas di benakku adalah seandainya itu ada dikebunku, aku akan manjat pohonnya, metik dan aku tumis dicampur pakai teri. Nyam-nyam pasti enak sekali.

Ngomong-omong soal pohonnya itu tinggi lho. Dan juga butuh keahlian untuk menaikinnya. Seperti ini nih penampakannya:

image

Itu yang tinggi pohonnya. Dari bawah udah kelihatan kalau bunga mlinjo atau ucengnya. Sangat menggoda untuk dipetik.

Eh udah pernah makan tumis uceng kan?

Kenangan manis dari Yogyakarta – Sejarahku dimulai dari sana


Tau nggak ini jam berapa, yup aku tulis cerita ini mulai jam setengah tiga pagi, lagi lembur ngerjain tugas kantor yang butuh waktu tenang dan konsentrasi tinggi agar tidak salah. Tiba-tiba aku denger lagu ini dari youtube. Coba denger deh, bagi temen-temen yang pernah tinggal di jogya, pasti akan kangen terhadap kota ini. Bagus banget lagunya. http://www.youtube.com/watch?v=Qjb350eUaWo

Cerita ini agak panjang. Agar tidak bosen bacanya, aku kasih tau dulu kisi-kisi apa aja yang akan aku ceritakan. (kayak ujian aja ada kisi-kisinya 😀 ). Tapi aku kondisikan inilah aku pada masa itu. Mungkin dulu aku urakan dan suka mengucapkan isi kebun binatang… :mrgreen:

  1. I’m a villager – aku orang desa
  2. Yogyakarta
  3. Seumur-umur ini pertama kali pergi jauh
  4. Bingung di terminal umbul harjo
  5. Pertama naik taksi ke tempat pendaftaran
  6. Daftar tes, nggak bawa sepatu, diusir deh…
  7. Tahu goreng purworejo
  8. Kenal cewe koq langsung curhat cinta … dia naksir apa yah ?
  9. Pulang ke rumah jalan kaki
  10. Tes masuk yang tragis
  11. Pengumuman lulus yang memilukan, cuma  D1, gak apa-apalah

Yuk mulai baca ceritanya…, siapkan kopi, cemilan dan duduk manis. Oh iya jangan lupa sediakan genset siapa tau listrik mati padahal belum selesai baca cerita ini, ntar nyesel seumur hidup … wakakakakaaa 👿

I’m a villager.
Aku berasal dari sebuah desa kecil yang berada di daerah pegunungan, tepatnya pegunungan serayu kidul. (entah dimana itu, yang jelas di indonesia, tapi gak masuk peta saking pelosoknya 😦 ). Cerita ini sebagai ingatanku saat aku memulai sejarah baru meninggalkan kampung halaman tercinta untuk pergi merantau jauh ke daerah lain bahkan menyeberangi laut. (dramatis banget yak ? :mrgreen: )

Sebagai lulusan sma tepian sawah (eh jangan salah, sma-ku ini sekarang udah jadi rintisan internasional lho, pokoknya maju banget ! ) dan berasal dari pelosok, informasi melanjutkan kuliah sangat terbatas. Melihat kondisi orang tua dan diriku sendiri, semangatku untuk melanjutkan kuliah sangat tinggi.

Inilah sepenggal kisah seorang desa yang ingin mengubah nasibnya agar tidak jadi kuli dan pengangguran. Walaopun gak tau mau jadi apa kelak, tapi yang penting menuntut ilmu yang lebih tinggi.

Tak usah malu menceritakan siapa diri kita sebenarnya. Aku bilang anjing … asu… celeng... bagi orang yang nggak pd atau mau mengakui asal-muasal dirinya. Banyak sekarang orang desa sok-sok pengin modern dan dibilang gaul, tapi kesannya malah norak, cuiih… (sorry aku emosi melihat beberapa adik generasiku yang sok-sok… asuuuu… )

Yogyakarta
Yaah…, dari sinilah sejarah baruku dimulai. Hari itu aku depat informasi di papan pengumuman sma, ada pendaftaran sekolah yang biayanya gratis, siswa hanya menanggung biaya kos dan makan sehari-hari. Ini dia yang aku tunggu. Setelah aku baca lengkap, kayaknya aku memenuhi syarat yaitu laki-laki, tidak berkacamata, tinggi > 165 cm, nem rata-rata > 6.5

Alamat pendaftaran dan tes masuk ada di yogjakarta. Tepatnya di jalan raya solo km 11. Ada yang tau tempat apa itu ?. Yaap aku juga gak tau di mana lokasinya. Modal nekad aja deh.

Seumur-umur ini pertama kali pergi jauh
OK, langsung bawa persiapan ini dan itu, aku mendaftar ke sana. Eittsss tunggu dulu. JOGYAKARTA, itu jauh yaa ? haduh… sama siapa aku kesana ?

Aku langsung ciut nyali. Gak ada teman, gak ada kenalan di sana. Trus dengan niat yang kuat, aku tanya orang kesana-sini cari informasi tentang yogja. Dari mulai naik apa ke sana, di sana turun dimana dan kalo mau ke alamatnya naik apa. Tapi yang aku dapatkan cuma bis jurusan kesana dari tempat tinggalku. Byuh…

Ya udahlah, nekad aja. Aku naik bis jurusan purwokerto-jogyakarta jam tengah sembilan malam. Sepanjang perjalanan aku selalu waspada njaga isi tas dan dompetku. Takut kalo kecopetan, soalnya kalo kecopetan, musnah deh harapanku. Ijazah dan sebagainya ada di tas. Tau nggak uang sangu aku taruh didalam kaos kaki yang aku pakai, dan di dompet cuma beberapa ribu aja untuk beli minum kalo haus, dan lainnya aku taruh di saku celana pendek dalam karena saking paranoidnya. Maklum lah ini pertama kali aku pergi jauh dari Banyumas, dan sendirian lagi.

Walau kondisi malam, tapi aku paksakan untuk tidak ngantuk dalam bis. Dengan tetap waspada, aku mengamati kanan kiri jalan sepanjang yang dilalui bis. Ada gedung tinggi, toko-toko besar dan lampu merah yang banyak. waha aha haaaa maklum lah aku kan orang desa, baru pertama kali liat. Untung yang duduk di sebelahku orang tua, jadi aku cuek aja. Coba kalo yang duduk disebelahku cewe, mungkin aku akan jaim dikit, maksudnya jaga imron xixixiii

Bingung di terminal Umbulharjo
Haduh sudah sampai terminal. Jam 2 malam. Bingung dan masih gelap. Dengan tetap konsen pada tas dan sepatuku, aku turun dari bis dan melihat sekitar… whaaaa ramai sekali, inikah terminal besar… ? ramai yaa banyak kendaraan dan bis… (ya iya lah namanya aja terminal… eh maklum yaa !, statusku waktu itu bener-bener ndeso, untungnya aku gak pergi ndaftar sekolah pake celana komprang dan sarungan xixixii).

Pertama naik taksi ke tempat pendaftaran
Satu tujuanku adalah ke tempat pendaftaran. Aku bingung mau naik apa ke jalan Raya Solo KM 11. Aku niatnya nyari pos polisi dan nanya. Soalnya biar aman. Ehh saat aku lagi duduk ditepian terminal ada orang yang mendekati aku. Dia juga kelihatan seperti dalam perjalan kaya aku. Bawa tas besar dan nyangkin koper.

Komunikasi terjadi, aku awalnya curiga tapi dengan bahasanya yang alus dan tidak memaksa, dia mengajakku naik taksi karena tujuan dia satu arah denganku. Katanya KM 11 terlewati olehnya.Kemudian dia manggil taksi, tasnya dititpkan sama aku. Lho orang ini koq percayaan banget ama aku, terus kan aku jadi heran. Mengapa dia bisa langsung percaya aku. Coba kalo tasnya aku bawa lari… Ahh.. lupakan saja.

Ya udah akhirnya bener aku turun di jalan yang dimaksud. Yaah.. jam empat pagi aku sampai disana. Di situ aku berhenti kemudian dia melanjutkan perjalanan. Hah… lega rasanya… aku mengamati keadaan sekitar. Itulah pengalaman pertamaku naik taksi… ( ndesooo banget yah.. )

Terlihat jelas olehku ada papan besar disebrang jalan tertlis UKRI, dibawahnya ada tulisan Jl Raya Solo KM 11. Kemudian aku jalan menyusuri jalan itu sekitar ada 200 meter masuk ke dalam. Kondisi masih gelap gulita, hanya lampu emperan rumah yang masih nyala serta suara burung hantu atau kelelawar yang sekali-kali terdengar.

Horor juga, tapi bagiku kondisi seperti itu gak seberapa dibanding desaku yang kadang ditambah dengan angin gunung yang dingin dan kabut yang menggelapkan pandangan mata. I,m a villager… what the hell with hantu, setan, pocong dan sebagainya

Daftar tes, nggak bawa sepatu, diusir deh…
Waktu itu entah jam brapa, soalnya udah gak ada jam yang bisa aku lihat. Kalo diterminal dan taksi, aku masih bisa tanya jam. Lhaa ini, aku jam aja gak bawa aku akhirnya sampai ke tempat pendaftaran. Sunyi, gelap dan sepi sekali. Hanya ruang pos satpam yang masih terbuka dan aku liat pak satpampun mulai kalah dengan ngantuknya.

Akhirnya aku duduk bersandar pada pintu gerbang, aku berpikir inikah rasanya hidup. Capek dan lelah serta haus… aku duduk di tempat seperti itu rasanya kaya gelandangan aja. udah pake sandal ( waktu itu sandal carvil, tapi tipe kervil.. alias tiruan, itupun udah lusuh dan beberapa jebol). Mungkin kalo orang liat aku emang gelandangan dan sama sekali gak pantas kalo ditanya jawabku adalah daftar tes.

Oh emak… oh ayah… doakan anakmu ini semoga selamat di perjalanan…

Akhirnya hari menjelang siang. Aku dibangunkan oleh pak satpam karena pintu mau dibuka. Mata masih kiyer-kiyer ditanya sedang ngapain. Dengan bahasa yang lugu aku jawab mau daftar tes… seolah nggak percaya aku ditanya dari mana, sama siapa dan … ahh…. rasanya aku gak dipercaya mau ikut daftar tes…trus karena aku gak menunjukan tanda-tanda kriminal, aku dipersilahkan masuk, dan ditunjukan mushola untuk sholat subuh. Sebenarnya satpam itu baik hati yah… hi hi hi

OK, jam pendaftaran dibuka, tepatnya 7.30 waktu jogya… whuiii ramai sekali. Pada bawa mobil oiii… pada keren-keren dan bersih anak-anak yang mau daftar. Aku jadi minder sekali. Bener… aku malu untuk nggabung ama mereka. Udah bajuku lusuh dan mukaku kucel karena semaleman gak tidur.

Aku liat ada seorang gadis cakep banget turun dari mobil. Aku yakin ayah dan ibunya yang nganter. Sambil gandengan tangan ama ibunya dia menuju tempat antrian pendaftaran. Haduuhhh.. aku menghindar dari tempat itu jangan sampai aku terlihat olehnya… malu…

Tapi aku merasa ada yang aneh, koq semua orang yang mau daftar pake sepatu yah. Nhaaa bener kan, ternyata gak jauh daru ruang pendaftaran ada tulisan di papan sekiatar ukiran 1 m x 50 cm “Dilarang pakai sandal bagi pendaftar”.. tuingg…. lemes deh. Saking bingungnya aku tanya sama seorang petugas yang kebetulan lewat apakah boleh pakai sandal ?? jawabnya simpel, “mas mending pulang aja dulu ambil sepatu !”

Mampuss… aku secara otomatis mundur dari situ, aku berjalan keluar dari area gedung itu menuju pintu gerbang. Dengan wajah lesu tertunduk aku bingung sendiri apakah harus pulang ke banyumas dan kembali lagi besok. Bagikan seorang yang kalah sebelum bertanding aku merasa orang-orang melihatku sinis sekali. Udah pakai sandal, lusuh, muka kusam… aku merasa aku orang yang sangat pecundang. Aku berpikir orang-orang mencemoohku karena udah tau disuruh pakai sepatu koq pakai sandal…

Sediiihhh…. banget rasanya…, aku dah gak peduli ramainya orang-orang yang udah pada keluar bawa secarik kertas ditangannya pertanda udah selesai daftar. Tambah pusing lagi ketika ada yang ngomong dengan keras sesama mereka “eh ujian dimana ?” Deg…. ujian gak disina yah… ( pikirku ). Kemudian aku duduk diteras dengan puyeng. Koq begini yah nasibku.

Duduk melamun tiba-tiba terpikirkan olehku bagaimana kalau aku pinjam saja pada orang. Tapi sama siapa yah…? Waktu aku berpikir untuk pinjem sama pendaftar yang tampangnya juga kucel. Dengan harapan dia juga gak jauh beda dariku, paling tidak bisa memahami kondisiku.

Setelah duduk memperhatikan banyak orang, akhirnya nemu juga seorang yang aku harapkan. Sepatunya aku liat udah kucel. Nhaa bener aku bilang sama dia kondisiku. Akhirnya dia mengerti kondisiku yang malang ini dan bersedia untuk meminjamiku sepatu. Alhamdulillah

Tetapi masalah gak berhenti sampai di situ. Rupanya sepatunya kekecilan. Ukuran normalku adalah nomor 42, eh sepatunya ukuran 40. Bisa bayangin kan saat aku memakainya. Rassanya sungguh sakit kaki ini, jalanpun jadi agak pincang… akhirnya proses pendaftaran tes aku lalui dengan kondisi menahan sakit di kaki. Tetapi pas mengembalikan sepatu itu, aku nggak bercerita bahwa sepatunya kekecilan dan kakiku sakit. Orang dipinjemi aja aku sudah sukur… 😦

OK lanjut lagi ceritanya, setelah kemarin off beberapa hari.

Tahu goreng purworejo
Selesai mendaftar dengan langkah santai aku meninggalkan lokasi menuju jalan besar. Tujuanku kini satu yaitu terminal umbulharjo. Kira-kira waktu itu adalah jam 10 an pagi. Kini terlihat jelas papan besar di atas jalan : UKRI, jalan raya solo km 11. Oooo ini akan jadi pedomanku kalau mau balik ke tempat pendaftaran guna liat hasil pengumuman.

Dari situ aku tanya ke pedangan asongan di tepi jalan untuk angkutan menuju terminal umbulharjo. Setelah tau aku langsung menyebrang jalan untuk menunggu angkutan yang dimaksud. Eeee ternyata ada barengannya juga. Karena belum kenal, aku gak ngobrol sama mereka kurang lebih ada tiga orang yang sama-sama ndaftar dan tujuannya juga ke umbulharjo. Selama di angkot, mereka membahas tentang persiapan ujian. Haduuuh aku tambah berkecil hati, rupanya mereka sudah mengikuti bimbingan belajar dalam rangka ujian besok. Lhaa sementara aku, boro-boro bimbingan belajar, baru kali ini aku denger ada kegiatan seperti itu..

hi hi hi… bener-bener ndeso yah, bimbel aja gak tau. Itu kan udah umum orang pada tau, yaaa coba bayangin aja betapa ndesonya aku waktu itu.

OK, sampai di terminal umbulharjo, aku langsung turun dan mencari bis jurusan purwokerto, aku gak berani nanya orang di sana, soalnya takut ditipu. Ya udah dengan diuntungkan tampangku yang kaya orang ilang (pokoknya gak terkesan sama sekali aku orang yang berduit, jadi copet atau premanpun gak menggubrisku). Aku liat banyak calon penumpang yang ditarik-tarik ama calo untuk naik bis. Nhaa sementara aku boro-boro ada yang nanyain, mau tanya aja aku gak berani. :mrgreen:

Naaa itu dia, bis RAHARJA jurusan purwokerto. Whaa kali pertama aku naik bis AC. Inikah rasanya naik bis AC, sejuk juga yah… bener-bener sejuk dan adem dari pada diluar. Duh ntar tarifnya mahal gak yah, aah… udah lah, kalo misal duitku kurang itu urusan nanti, yang jelas aku udah dapet tempat duduk dan bisa istirahat untuk menuju kotaku – purwokerto. Semoga nanti di perjalanan aku bisa istirahat karena semalaman gak bisa tidur setelah perjuangan panjang mendaftar.

Bis berangkat. Kebetulan aku duduk dipinggir jendela. Weleh.. aku koq gak bisa tidur yah, mataku masih kagum melihat suasana perjalanan yang bagiku sangat baru. Bangunan-bangunan gedung yang tinggi walopun paling 3 lantai (maklum di desaku nggak ada). Wah sepanjang jalan malah asyik melihat pemandangan sekitar.

Lhoo mana cerita tahu gorengnya. Koq malah ngelantur kesana kemari. Ini dia juga pertama kalinya aku beli makanan sendiri di bis. Waktu itu aku belum sarapan apapun sejak paginya. jadi jam 11 itu aku di bis merasa lapar sekali, tambah lagi dah gak ada minum, haduhh… rasanya.

Kalo nggak salah, aku baca dari jendela bis, bisku masuk ke terminal purworejo. Disana bis berhenti sebentar. Nhaa waktu itu ada pedangang tahu sama lontong naik bis. Kemudian aku beli 2 bungkus, waktu itu masih Rp 500 satu bungkus. Ada juga sih pedangan minum tapi aku masih kepikiran kalo uangku gak cukup untuk transport. Ya udah lah yang penting perut terganjal.

Aku kemudian memakannya, tentunya udah mikir resikonya yaitu gak ada minum. Aku paksain aja makan tahu goreng ama lontong. Kebetulan waktu itu masih anget. Rasanya enaaaaaak banget. Dan bener apa yang aku takutkan terjadi juga. Seret dan kepedesan tanpa ada minum. Aku menelannya susah banget. Tapi karena aku lapar aku nekad aja untuk menghabiskannya. Bisa dibayangkan gimana kejadiannya. Makan pedes, seret dan gak ada air. Nafasku sampe ngos-ngosan..

Kenal cewe koq langsung curhat cinta … dia naksir apa yah ?
Sampai aku nggak sadar bahwa yang duduk disebelahku adalah seorang gadis …. ya kurang lebih usianya sama denganku. Aku jadi grogi dan diam aja karena aku mulai memikirkan jangan-jangan dia memperhatikanku sejak tadi. Memperhatikanku ketika kepedesan dan kesereten makan tahu ama lontong…. hiiii malunya…

Tau gak sih bagaimana cara aku makan tahu itu ? Yap, kalo lontongnya aku ambil dari dalam plastik dan aku kupas daun pembungkusnya. Nha kalo tahunya aku gigiti masih di dalam plastik, dengan cara aku keluarkan sebagian-sebagian. Plek mirip persis kaya anak SD makan siomay. Mungkin gadis itu menilaiku orang yang amat ndesoo…

Orangnya sih biasa aja, gak terlalu mentereng atau kucel kaya aku. Tapi sekilas aku liat wajahnya dia cakep juga… 👿 tapi bener deh aku gak berani untuk melihat wajahnya secara langsung karena minder.

Aku jadi salah tingkah sendiri. Dengan pelan aku masukan tahu dan lontong yang tinggal satu ke tas dan kemudian aku duduk kembali bersandar sambil nahan seret dan pedes. Huh… kenapa harus gini sih keadaannya. Kenapa juga aku harus terpengaruh oleh gadis itu. Mmmm gengsi kali yah ( xixixixiii maklum lagi usia puber pertama 👿 )

OK bis terus berjalan melaju ke arah purwokerto. Tiba-tiba gadis itu bertanya padaku. Glek… aku kaget… sampai pertanyaanya aku lupa dia nanya apa karena saking groginya.. “mas habis daftar juga yah… , berarti kita tadi bareng di sana !” Aku bingung belum ngeh ama pertanyaan dia. Reflek aku njawab “Ndaftar apa ya ?” bla. bla. bla… intinya gadis itu sama-sama ndaftar di tempat yang sama denganku. dia berasal dari kabupaten gombong. Kalo dari jalur perjalanan bisku harus melewati 3 kabupaten lagi untuk sampai ke gombong.

Gadis itu (aku sampai tak tau namanya karena gak berani tanya) sangat pinter ngomong dan ngobrol, beda banget ama aku yang pendiam. Percakapanpun terjadi. Aku lebih dominan untuk mengiyakan kata-katanya dari pada aku yang bercerita ini dan itu. Sampai suatu ketika dia mulai mengarah pada cerita masa sekolahnya kemarin. Dia bercerita tentang kondisi sekolahnya beserta temen-temennya. Yaa kaitannya pasti dengan pilihan masing-masing anak mau melanjutkan dimana. Aku sebenarnya udah ngantuk banget mo ngladenin dia ngobrol. Entah kenapa juga dia mau ngobrol ama aku. Apa karena aku lugu yah ?

Glek… dia koq tiba-tiba nanya sama aku udah pernah pacaran apa belom ? otoomaatessss aku jawab belum (yaa karena emang belum pernah). Rupanya dia tetep mengaitkannya dengan pilihan mendaftar di Sekolah Tinggi yang baru aku mendaftar di sana. Gadis itu ternyata beda pilihan melanjutkan kuliah dengan pacarnya. Hubungannya jadi nggak harmonis aja. Tanpa di minta dia malah menceritakan kisah-kisahnya dengan pacaranya.

Haduuhhh… tau gak sih.. waktu itu aku inget bener hanya suara kami berdua di bus dan suara mesin aja yang terdengar. Waktu jam 12.30-an waktunya orang-orang yang ada di bus pada ngantuk dan tidur. Aku yang ngantuk berat akhirnya merasa wajib jadi pendengar baik gadis ini. Entah kenapa juga gadis itu ceritanya koq sama aku. Baru kenal … mmmhh… knapa yah ? aku terus bertanya-tanya mengapa dia sejujur itu ama orang yang baru dikenalnya. Apa karena tampangku ? apa karena sikapku yang lugu ? apa karena dia saking penginnya curhat tapi udah gak ada orang lagi ? apa karena dia naksir aku ?

Ah… aku jadi pusing sendiri mendengar cerita-ceritanya. Hik.. hik… aku malah jadi berandai-andai kalau dia adalah pacarku, maka aku gak akan tega menderita seperti itu. Jiwa kepahlawananku tampil untuk bisa membantu orang yang membutuhkan. Yah itulah pikiranku sambil mendengarkan dan mengiyakan cerita-ceritanya..

Sampai disebuah tempat dia sepertinya perjalanannya di bis itu akan segera berakhir. Dia tanya sama aku lokasi ujiannya dimana. Dia minta janjian untuk ntar berangkat ke tempat ujiannya bareng, secara di nggak ada teman di sana. Aku dengan nada yang tidak yakin mengiyakan saja. Dan akhirnya dia turun sambil melambaikan tangan padaku. Aku jadi keki sendiri ( koq bisa yah….) aku hanya senyum aja dan dia turun.

Bis kembali melanjutkan perjalanan. Aku kini bisa duduk dengan nyaman dan tenang. Aku merenungkan kembali apa yang barusan aku alami tadi. hi hi hi … lucu juga. Aku baru nyadar kalau mukaku itu mungkin dah kinclong karena berminyak. Ya iyalah belum mandi dari kemarin. Mulut juga bau karena belum gosok gigi, dan juga pasti baju yang kusut kucel gak karuan serta sandal slop yang udah rusak sana-sini. Koq bisa yah ada gadis cakep gak kenal ama aku curhat persoalan jiwanya yang secara kebanyakan orang adalah masuk kategori rahasia. Halah.. udah lah…

Tiba-tiba bis berhenti. Ada seorang ibu-ibu bawa tas dan mengemban seorang anak kecil yang masih ngedot (ngempeng botol susu). Aku udah khawatir karena hanya tempat duduku yang kosong… jreng…. dan bener dah dia duduk disampingku. Anaknya didudukan dulu dia menaruh tasnya di bawah jok kemudian dia memangku anaknya. Haduuuhh.. tempat duduku jadi terasa sempit sekali. Aku diaamm aja sambil menggerutu. Yaa aku sadar kalo aku gak iklas aku salah, tapi rasanya gimaanaaa gituuu tadinya seorang gadis manis yang duduk di sampingku kemudian berganti menjadi seorang ibu beserta anaknya yang usil. Jadi ramai. Huh….

Kemudian dengan perasaan berdosa aku langsung pura-pura tidur. Ehh malahan gak bisa tidur karena udah kadung menggerutu dari tadi. Walopun mataku merem tapi gak bisa tidur…

Pulang ke rumah jalan kaki
Sadar-sadar aku denger ada orang berteriak-teriak “terminal abis… terminal abiss…” jiaaah…. aku kebablasen ….
Ternyata aku ketiduran, siall… harusnya aku turun di depan RSU Banyumas, ehh… malah kebablasan sampai terminal purwokerto. Haduh… mana uang mepet lagi. Whaa ini gara-gara aku gak ikhlas ama ibu-ibu tadi kayaknya. Tapi aku liat dia udah gak nampak sama sekali.

Ya udah aku naik bis mini ke banyumas dari terminal purwokerto. Rupanya perjuanganku untuk sampai rumah tidak semulus yang aku harapkan. Duitku pas cuma untuk sampai ke banyumas. Ongkos untuk naik ojek ke rumah habis. Terpaksa deh jalan kaki naik gunung ke rumah Yaa perjalanan naik dan menanjak ada sekitar 8 kilo. Alaaaa maaakkk jam udah 4 sore. Dari tadi malam belum makan, belum mandi, gak ada uang, lapar … hiks….

Dengan perasaan sedih aku pulang jalan kaki. Sandal aku copot agar tidak tambah rusak aku sampirkan di tasku. Celana aku cingingkan agar tidak kotor. Yaa mirip sekali ama orang ilang. Sudah capek, lelah haus masih harus jalan kaki naik turun perbukitan untuk sampai ke rumah.

Aduhhh… tulisann ini koq masih panjang yah dan belum selesai juga. Harusnya dijadikan beberapa postingan tapi rasanya koq gak pas, karena ini satu rangkaian. Sabar yaa bacanya… 😀 Nih masih ada beberapa point lagi yang belum aku ceritakan.

Tes masuk yang tragis
Beberapa hari berlalu, besok saatnya tes masuk. Perasaan gelisah dan mbayangin soal ujian seperti apa aku nggak bisa tenang dan selalu kepikiran. Aku hanya dapat informasi kalau jenis soalnya adalah 80% IQ sisanya bahasa inggris, bahasa indonesia dan pengetahuan umum.

Persiapan ujian aku siapkan. Aku dibuatkan sebuah papan kecil sebagai alas ujian. Kalau biasanya temen-temen pada beli triplek tipis seukuran kertas F4, aku karena berada di gunung dan gak sempat lagi beli ke purwokerto, akhirnya aku dibuatkan oleh ayahku yang kebetulan jago pertukangan.

Pengalaman kemarin, kalo berangkat jam 9 malam, aku sampai jogja jam 2 malam. Ya udah aku dari rumah berangkat jam 1 dini hari. Whuiii pas dianter paman naik motor menuju ke karesidenan banyumas, gelap dan berkabut. Dingin… banget. Singkat cerita aku menyetop bis jurusan purwokerto – jogyakarta.

Buseettt aku dah gak kebagian tempat duduk, padahal besok mau ujian. Terpaksa aku berdiri di dekat pintu belakang bus sambil menahan kantuk. Hadooh di bis itu beberapa orang merokok lagi, nambah-nambah suasana sesak nafas di bus. Udah udara dingin ditambah asap rokok.

Alaaaa maaakk… bis berhenti dan ada 2 orang pedagang pakaian naik. Bis itu gila juga yaa, semua barang dagangan penumpang itu dinaikan, sehingga memenuhi lorong bus. Aku sampai-sampai hampir nggak kebagian tempat untuk menempatkan kaki. Sial… tambah capek. Rasanya mau turun aja. Aku akhirnya agak bergeser maju ke tengah. Aku akhirnya bersender pada jok kursi (aku yakin tepat di atas roda belakang). Udah bis ekonomi, pada ngerokok, gak nyaman sekali.

Terlihat dengan jelas bahwa yang sedang duduk di jok itu pasangan kakek dan nenek. Mereka memangku tas dan sang nenek memangku kresek. Entah isinya apa. Aku liat juga dibawah jok terlihat penuh oleh tas dan kardus. Whalaa bener-bener penuh muatan nih bis…

Ehheee…..eeee huekkk… hueee..kk sorr… hhhuueekk… nenek-nenek didepanku muntah… aduuhhh… kena kakiku gak yah. Udah capek berdiri dari tadi, ditambah liat orang muntah, dan muntahannya deket sekali sama kakiku. Yah terliat jelas sekali sang kakek membersihkan muntahan itu. Aku jadi ikut mual… sialll… (wah gimana neh, padahal aku besok mau ujian.

Perasaanku semakin gak enak. Tubuhku mulai protes juga. Capek dan kaki lelah, tangan pegel karena harus pegangan ke besi. Tambah-tambah sang nenek mengeluarkan benda yang amat aku benci dalam hidup ini. Yaitu minyak kayu putih. Baunya bikin aku tambah mual… bener aku jadi serasa mau muntah. Tiba-tiba perutkupun ikut mules… aiiihhh…. nenek itu apa karena saking gak taunya, biar perutnya anget kata si kakek, dia meminum minyak kayu putih itu.

Ghhuuoookkk, aku dah mau muntah menyaksikan hal itu. Yaa namanya aja nenek-nenek, dalam kondisi gelap, goncangan bis yang keras, dia berusaha mengoleskan minyak kayu putih ke leher, jidat dan perutnya. Otomatis tercecer kemana-mana. Nasibb.. nasib…

Udahlah, pokoknya aku berdiri naik bis dari banyumas sampai purworejo. Nah di terminal purworejo ada beberapa penumpang yang turun. Aku segera melompat-lompat melewati tumpukan kain dagangan ke kursi agak di depan. Dengan harapan bisa dapat tempat duduk. Dan akhirnya aku bisa duduk.

Aku teringat gadis yang aku temui waktu itu. Dia ngajak janjian untuk berangkat ke tempat tes bareng. Tapi sampai detik ini gak ada kabar. Ya udahlah. Kemudian aku gak berani untuk tidur takut kebablasan, karena bis yang aku naiki cuma mampir di terminal umbulharjo dan akan melanjutkan ke solo.

Genap sudah deh perjuanganku sampai ke tempat ujian. Waktu itu tepat jam 7.00, ujian nanti jam 8.00. Lapar, haus dan badan terasa risih banget karena semalaman hampir berdiri keringatan ditengah muntahan dan asap rokok. Kaki pegel dan tangan lemes.

Aku melihat anak-anak yang mau tes pada seger-seger banget. Aku kemudian masuk ke area tempat ujian. Yaa tepatnya di STIKERS = STIE Kerjasama Yogyakarta, tepatnya arah menuju parangtritis. Yang bikin aku minder, ternyata mereka sambil duduk-duduk belajar soal-soal. Lha sementara aku, gimana mau belajar, soal gak bawa, capek, lapar dan belum mandi. Aku teringat gadis itu, ko gak kelihatan yah ? ah nambah-nambahin pikiranku aja.

Waktu ujian dimulai. Perasaanku sudah gak enak banget, soalnya ketambahan kebelet boker + pipis. Yaa coba bayangin deh, udah capek, ngantuk, nggak mandi, risih, badan terasa lengket, lapar, haus, kebelet boker + pipis , perasaan minder ama peserta tes yang lain.

Aku kerjakan soal sambil merasakan itu semua. Di tengah mengerjakan soal, aku sempat ketiduran. Aku cuma bisa melihat kanan dan kiriku mengerjakan soal sambil serius sekali. Aku merasa ngerjain soal asal-asalan dan sekenanya. Apalagi soal IQ sebisanya aja aku kerjakan.

Pengumuman lulus yang memilukan, cuma  D1, gak apa-apalah
Perjalananku menuju tempat pengumuman kelulusan gak akan aku ceritakan. Yaa soalnya mirip apa kejadian pertama kali aku naik bis ke jogya, yaitu sampai ke tempat pengumuman aku kepagian.

Segala puji bagi Allah SWT, rupanya perjuanganku yang panjang dalam tes itu membuahkan hasil. Aku LULUS ! Kemudian aku teringat sebelah kanan dan kiriku yang begitu sok banget saat ujian. Serius dan jaim banget. Ha ha ha… ternyata nggak lulus. Aduh koq aku malah seneng sih melihat mereka gak lulus. Oh iya soal gadis itu aku sudah melupakannya.

Tapi melihat detail kelulusan itu aku kembali ciut nyali. Diterima sebagai D1 dan lokasi pendidikan ada di Medan – Sumatera Utara.. buseeettt jauh banget… Aku langsung teringat rumahku, langsung berandai-andai kalau nanti sudah di medan. Siapa yang akan mengurusi kucing kesayanganku. Siapa yang akan merawat radio buatanku. Haduuhh….

Dengan langkah gontai, aku pulang ke Banyumas, sepanjang jalan kepikiran terus tentang jauhnya lokasi pendidikan. Kepikiran emak yang notabene aku adalah anak laki-laki satu-satunya (boleh dikatakan anak tunggal). Walau aku punya adik, tapi masih sangat kecil. Aku bisa mbayangin betapa sedihnya emak kalau aku pergi meninggalkan banyumas, walaupun tiap hari aku dimarahi, tapi sebagai anak pasti emak juga menyayangiku.

Itulah awal mula sejarah baruku. Sejak saat itu aku meninggalkan kampung halamanku ke Medan – Sumatera Utara.

Dari asrama – We Are The Champion !


Coba bayangkan saat-saat wisuda, masih ingat kan ? atau bagi yang masih kuliah paling tidak bisa membayangkan suasana wisuda. Nah begitu juga dengan siswa-siswa asrama ini menjelang hari penutupan (selasa besok) sudah jelas siapa yang berhasil mempertahankan posisi rangking satu. Pada acara itu tiga siswa rangking pertama pasti dipanggil ke depan untuk mendapat penghargaan.Dan dia akan bilang “WE ARE THE CHAMPION“.

Tetapi postingan ini tidak membahas itu. …. gubrak…

Ini adalah kisah kelasku memperebutkan rangking satu dalam posisi di kelas. soalnya posisi ini sangat menentukan nasib selanjutnya. Usaha kami sangatlah gigih dalam memperebutkan posisi ini. Setiap pagi kami selalu berlomba datang lebih dulu agar mendapatkan kursi yang paling pas untuk mengikuti pelajaran.

Itulah kami… selalu memperebutkan posisi duduk di belakang. Tempat duduk yang di belakang inilah yang jadi rebutan kami untuk mendapatkannya. Barang siapa yang dapet kursi dibelakang, dialah yang akan paling bahagia seharian itu.

Dengan duduk dibelakang, banyak sekali keuntungan yang akan didapatkan. Dari pengalamanku selama ini ada beberapa yaitu :

  1. Kalau ngantuk gak akan ketahuan
    Ada beberapa dosen yang cara ngajarnya sungguh bikin ngantuk. Dari suaranya yang pelan dan cuma duduk di kursi sambil mengajar. Dosen ini sangat aku benci, dia pinter untuk dirinya sendiri…
  2. Kalau ada pertanyaan dari dosen, biasanya siswa yang duduk di depan yang akan ditanya.
    Alasannya malu dong kalo gak bisa jawab. Nah daripada malu gak bisa jawab mending duduk di belakang aja deh… aman..
  3. Satu lagi, kalo jenuh dengan pelajaran bisa main-main hp, chatting atau browsing.
    Hi hi hi hi…. contoh keberhasilannya adalah ada yang nemu video panas luna maya vs ariel. Terus saat pelajaran berlangsung ternyata hampir semua yang duduk dibelakang saling kirim lewat blutut. Ha ha ha ha…. (temen-temen yang buruk sangka dulu ya… aku sama sekali gak doyan ama video-video gituan.. :mrgreen: )

Yah itulah mengapa duduk di belakang lebih penting dari pada segalanya saat di kelas.

Tuiing…. gubrak… ternyata juara satu untuk duduk dibelakang yah… wakakakaaa… lho kan bener, diawal aku dah ngomong bukan mau membahas rangking satu karena prestasi … hag…hag…hag…

Trus kalo dipikir-pikir mau jadi apa masa depan kami… ? yang penting saat ini “WE ARE THE CHAMPION” … on the class…

waakakakakaaa….