Beban derita anak-anak kita dimasa sekarang !


Sungguh mengenaskan nasib yang akan dialami generasi penerus kita dimasa mendatang. Bahkan hidup kita sekarang ini sudah mengalami derita itu walau kadarnya masih ringan. Artikel ini sebagai renungan buat kita semua.

  1. Anak-anak kita dimasa nanti, tidak akan menemukan suasana lingkungan yang hijau, segar dan sehat. Anak-anak kita paling akan tinggal di apartemen, perkampungan pada penduduk, yang penuh dengan permasalahan kesehatan lingkungan. Berbeda dengan masa kecil kita yang 90% lahir di lingkungan yang masih hijau.
  2. Generasi mendatang hanya akan mendapatkan sisa-sisa sumber daya alam yang rusak, soalnya sekarang eksploitasi sda hampir semuanya tidak disertai dengan reboisasi. Hutan yang gundul, sungai yang kotor, laut yang rusak dan sejenisnya
  3. Nanti, anak-anak kita akan dihadapkan pada instansisasi cara hidup, mulai dari makanan, minuman, dan keperluan tubuh lainnya yang sebagian besar dibuat secara kimiawi yang pasti akan memiliki resiko bagi kesehatan. Kalau normalnya manusia itu hidup secara alami, anak-anak kita akan mendapatkan kebutuhan secara instan. Bukankah makanan instant itu nggak semuanya sehat.
  4. Baru lahir, anak kita sudah memiliki tanggungan utang negara yang dibuat oleh para penguasa sekarang. Yang jika dihitung, waktu pelunasannya adalah akan ditangani oleh anak-anak kita pada masa mendatang semisal utang jangka waktu belasan sampai 20 tahunan. Para penghutang sekarang sudah pada mati, tinggalah generasi penerus yang harus memikirkannya.
  5. Anak-anak kita akan menanggung resiko dimasa hidupnya jika cara pemberian kebutuhan anak-anak kita tidak sehat. Contohnya dalam hal makanan, banyak diantara kita yang asal saja seperti makanan berpewarna, berpengawet. Kalau secara langsung tidak berpengaruh, tetapi hal-hal yang tidak sehat dan alami akan berefek pada masa tua anak kita…

Demikian apa yang sedang aku pikirkan… jadi pusing memikirkannya 😥

Rasanya punya komputer kecepatan tinggi di rumah.


Huahhh… Ahirnya komputerku yang dirumah sekarang gak megap-megap lagi. Kemarin-kemarin agak ngeden kalau mbuka beberapa aplikasi sekaligus.

Kemarin dengan hanya ram 512 mega, komputerku sering lambat untuk bekerja. Tetapi sekarang dengan aku kasih ram 4 giga jadi kenceng dan bisa mbuka aplikasi-aplikasi berat.

Sebenarnya aplikasi apa sih yang aku buka ?
Kalau sekedar browsing, chatting, office ram 512 di pcku yang menggunakan linux sudah cukup kenceng. Tetapi kalau sudah aku gunakan untuk bikin program menggunakan java, komputerku langsung megap-megap.

Lho emangnya java itu berat yah ?
Yup kalau bikin aplikasi skalanya kecil, aku saranin jangan pakai java, soalnya ibarat mbunuh nyamuk satu, itu pakai dibom rumahnya.

Maksudnya java itu cocok di lingkungan skala enterprise yang mampu menangani ribuan bahkan jutaan proses. Jadi pantaslah butuh resouce yang besar.

Eh tapi java yang ringan juga ada yaitu yang mobile edition. Bahkan sangat ringan berjalan di handphone. Conjtohnya operamini.

Sahabatku – Bersabarlah atas ujian hidupmu, jangan kau jadikan alasan untuk bermaksiat !


Dulu kamulah yang mengajakku untuk rajin sholat di Masjid ketika aku masih suka nggak sholat.

Seiring berjalannya waktu jalan hidup kita bersimpangan arah, Engkau memilih sebagai pedangang, aku memilih sebagai kuli tetap.

Kini betapa kagetnya aku mendengar ajakanmu… Engkau mengajakku untuk melacur…

==============================

Aku harus bilang apa yah…
Dari awal kamu sudah salah memilih jalan hidup. Engkau menikahi seorang gadis yang didasarkan pada kemudahan dunia. Jauh-jauh engkau merantau untuk keluarga tetapi keluargamu menolak cara itu. Mertuamu tak rela anak gadisnya engkau bawa diperantauan. Ini juga salahmu nggak mau tegas sebagai seorang suami. Salahmu juga adalah mengijinkan istrimu lepas dari lingkungan agama.

Dulu pas kenal, istrimu adalah seorang santri, tetapi setelah kamu peristri jadi lepas semua. Yaa karena ketidak tegasanmu. Kamu beralasan jika api dilawan api maka akan patah arang.

Sadarkah kamu bahwa api jika dibiarkan dia akan menjadi abu yang tak berguna nilainya. Sadarkah kamu bahwa mengalah terhadap kesalahan orang lain adalah ujungnya pasti bencana buatmu.

Sadarkah engkau jika mertua mencampuri urusan rumah tanggamu terlau jauh, maka kamu akan kehilangan muka dan wibawa dihadapan istrimu sebagai seorang pecundang dan percumah sebagai laki-laki

Sadarkah engkau ketika mertua tak merelakan dan mengikhlaskan anak gadisnya yang sudah dinikahi seorang lelaki, maka mertua itu tinggal menunggu saat kehancuran bagi anak gadisnya itu.

Sadarkah engkau bahwa keluarga istri dan mertuamu menjadi bahan pembicaraan jelek di masyarakat atas sikapnya yang mencampuri urusan rumah tanggamu.

Akhirnya kini engkau yang hancur. Keluargamu tak lagi menganggapmu ada. Karena dikira kamu menantu yang tidak patuh pada nasehat mertua.

Kini engkau merasakan semua usaha dagangmu sia-sia dan tak berguna

Kini engkau merasa bahwa wanita itu babi

Kini engkau merasa bahwa tidak ada gunanya hidup ini

Kini engkau merasa kesepian dan mulai mendatangi wanita malam untuk meluapkan rasa

Kini engkau kehilangan kealimanmu sebagai seorang kakang bisa menjadi contoh baik bagiku

Kini engkau kehilangan filter kata-kata yang aku kini menemukanmu sebagai seorang urakan.

Kini engkau berkali-kali menyampaikan kata-kata selamat tinggal ketika akan bunuh diri…

Kini engkau menolak semua nasehatku untuk kembali dan benahi dulu kealimanmu. Malahan engkau mengajakku untuk menikmati lubang-lubang zina di tepian jalan…

Apakah aku akan mengikutimu ?

Tidak sobat…

Aku hanya ingin engaku seperti yang dulu, yang alim dan sabar.

itu saja…

Duhai kekasihku, semoga cita-citamu bisa njahit segera tercapai !


Hi hi hi… lagi seneng neh…

Saat tulisan ini aku buat, aku sedang berada sekitar 2 meter dari meja belajar kekasihku (istriku tercinta) yang sedang mengerjakan PR dari kursus menjahitnya.

Begitu semangatnya dia dengan penuh senyum mengerjakan PR bikin model baju… ah entah apa namanya… aku mulai pusing untuk mendengar istilah-istilah perjahitan atau perfashionan… hmmm dasar suami…

Tapi walaupun aku nggak mudeng dengan istilah-istilah ukuran baju, aku mendengar sebuah cita-cita yang sangat mulia.

Jika nanti bajuku sobek karena dibawa kerja, engkaulah yang akan menjahitkannya. Jika baju anak-anak sobek, engkaulah yang akan membuatkannya…

Wahai sayangku… Semoga cita-citamu segera tercapai… dan mesin jahit itu semoga cepat berada di rumah kita…

Benarkah perkataan “jangan” itu pantang bagi anak kecil ?


Pikiranku jauh sekali menembus batas-batas nasehat dan saran orang bahwa terhadap anak kecil, kita tidak boleh berkata JANGAN.

Kata ahli pendidikan anak, kita nggak boleh menggunakan kata-kata negatif dalam melarang anak kecil melakukan sesuatu yang kita nilai nggak baik.

Pengalamanku sendiri dalam mendidik anak kecil memang kalau kita berkata negatif, misalnya jangan seprti ini, nggak boleh seperti itu, maka sang anak akan melakukan sebaliknya. Kalau si anak kita larang melakukan sesuatu, maka seolah ia disuruh untuk melakukannya.

Kemudian aku mencoba cara lain untuk melarang si kecil dari melakukan hal yang tidak baik. Misalnya dengan cara mengalihkan perhatiannya atau mengajaknya berbicara yang lain. Dan cara tersebut berhasil, tetapi sekedar mencegahnya saja.

Hal lain yang aku lakukan adalah memberinya pengertian bahwa hal ini baik dan hal itu tidak baik. Aku menanamkan bahwa hal yang tidak baik itu jangan samapi dilakukan. Tetapi proses ini ternyata tidak semudah membalikan telapak tangan.

Yang menjadi masalah bagiku adalah melarang anak atau memberitahu si kecil terhadap permaslahan yang prinsip seperti hal-hal yang berbau kesyirikan atau yang bertentangan dengan agama. Dikala memberi pengertian terhadap anak kecil belumlah memungkinkan, maka aku masih menggunakan kata-kata larangan.

Di sini ada sebuah pertentangan dari yang aku sebutkan sebelumnya dengan keharusan untuk memberitahu si anak bhawa ini salah dan itu benar.